thanks for coming, please help me to click my ad ^_*

Join The Community

Tak Mudah Menjaga Hati Ini, Terlebih Ketika Memandangmu



Bagaimana caranya membuat hati kita tenang dalam sedih, tabah dalam duka, dan setia merunduk saat senang. Aku terus mencari jawaban atas pertanyaan itu, saben hari aku melamun dengan kejadian ini, kejadian yang membawaku dalam lamunan panjang setiap ba’da isya, dan membuatku tak tidur nyeyak setiap malam. Dan lagu ini, Nantikanku dibatas waktu cukup membuatku tegar atas anugrah yang mungkin lebih akrab kukatakan musibah.
Tiap hari aku harus mencari alasan yang baru untuk pertanyaan yang membuatku jengkel dalam hati, pertanyaan yang sangat membuatku tidak lagi merasakan nikmatnya dalam ajaran ini, ajaran islam tentang pacaran, aku tak kunjung paham akan hal yang satu ini, apa yang menyebabkan pacaran dalam islam tidak diperbolahkan. Zina? Kalimat peringatan yang paling sering kudengar saat aku akan mendekati seorang akhwat. Aku ini lelaki normal yang mempunyai perasaan senang saat berada didekat akhwat yang terlihat menarik, cantik, apalagi berpenampilan bersih. Astaghfirullah, mata ini seperti tak mau rasanya berkedip. Ingin selalu memandangi wajah itu sampai aku puas, apakah ini dosa? Dosa lagi dosa lagi, ajaran islam in benar-benar membuatku terkekang. Aku ingin bebas, aku ingin tak terkekang lagi, tapi ya rabb aku ini manusia normal aku juga ingin masuk surga. Tapi ini benar-benar membuatku tak bisa tidur nyenyak tiap malam.
Malam ini aku berkumpul seperti biasa dengan sahabatku, tiga serangkai yang sangat kompak dalam segala hal. Pelajaran, bermain, group band, mengaji, sampai masalah hal pribadi kami semua tahu seluk-beluk dari tiga serangkai ini. Aku sendiri Diandra, dua temanku Rolan, dan Eno. Kami bertiga sudah berteman semenjak sekolah dasar, bukan berdasarkan kekayaan, ketampanan, ataupun kesamaan karakter yang senansib tapi kami adalah kumpulan sahabat yang saling melengkapi, bapakku seorang pagawai di perusahaan pertambangan di luar negeri, sementara Rolan ayahnya bekerja di salah satu sekolah dasar negeri sebagai kepala keuangan, dan Eno sendiri ayahnya bekerja sebagai pedagang toko kelontong di Pasar Unit dua. Kami dipertemukan dalam sebuah peristiwa yang sangat sakral menurutku, peristiwa dimana dua orang itu membuatku sadar akan nikmatnya hidup, sadar akan nikmatnya berada diantara orang-orang yang kita cintai. Nikmatnya menghirup udara setiap detiknya, nikmat dapat mendengar suara nyanyian burung di kebun dekat rumahku, dan nikmat dapat memandangi pemandangan yang indah di kebun sawit dengan ada kolam pemancingannya milik Pak Kasmo yang sangat lebar tepat di ujung desa kami. Tempat yang indah namun tempat yang juga paling ku kutuk, dan akan kuceritakan sebabnya kawan.
***
Hari itu aku sedang sangat marah dengan bapakku, bapak yang tak pernah datang tiap pembagian raporku, bapak yang tak pernah bisa mendampingiku saat mendapatkan piala juara kelas, itulah bapakku, bapak yang sangat rajin dengan pekerjaannya hingga membuatnya berbulan-bulan tak pulang kerumah. Siang itu tepat setelah pembagian rapor kelas dua, aku meluapkan rasa kecewaku karena bapak lagi-lagi tidak bisa mendampingiku mengambil piala juara kelas dan mengambilkan raporku, padahal aku sangat iri dengan temanku Sugi yang selalu didampingi kedua orangtuanya saat pengambilan rapor meski nilainya selalu berada di kasta terbawah kelas kami, aku ingin mendapatkan perhatian itu bukan dengan diwakilkan oleh wali karena bapakku tak bisa hadir. Siang itu kebun sawit milik Pak Kasmo menjadi tempatku menyendiri, berbaring, dan mengadu pada pohon serta memandangi kolam yang panjangnya sekitar sepuluh meter itu indah dan sejuk sekali. Lama aku berbaring, tiba-tiba aku terbangun entah mengapa timbul hasrat untuk menjajal kedalaman kolam Pak Kasmo yang katanya dalamnya lima meter itu, aku heran kenapa ada perasaan itu padahal aku sendiri tidak bisa berenang. Konon banyak yang bercerita bahwa kolam Pak Kasmo itu sangat angker, banyak jin penunggunya dan sudah banyak korban yang meninggal akibat tercebur kokolam Pak Kasmo tersebut. Aku seperti terhipnotis untuk menjajalnya, kata hatiku seolah-olah mengatakan masalah akan selesai kalau aku masuk kolam itu. Lalu dengan sedikit sadar aku melangkah menuju kolam itu, kulempar batu kedalam kolam, bulatan air bergerak begitu tenang. Tapi heran waktu itu aku tak gentar sedikitpun dengan cerita mengerikan tadi, kakiku mulai menyentuh air dan sekejap tiba-tiba kurasakan dingin di sekujur tubuhku. Seluruh tubuhku sudah tenggelam dalam kolam, tak berdaya berenang gaya batu dan kurasakan kakiku telah menyentuh tanah lumpur di dasar kolam, samar-samar kulihat cahaya tipis dari atas, dan ternyata benar bahwa kedalaman kolam Pak Kasmo ini benar-benar lima meter. Aku sudah pasrah, diam tak berdaya, perutku rasanya sudah penuh dengan air, sudah tak ada lagi kekuatanku untuk neik ke atas, aku memang bodoh, tak bisa berenang tapi nekat masuk kolam sedalam lima meter. Lalu entah datang dari mana, ada dua orang yang kudengar suaranya “Jedum” dua kali samar-samar suara benturan tubuh dengan air dan tiba-tiba tanganku serasa ada yang memegangi, aku sudah tak mampu melihat dan rasanya aku sedang bergerak menuju ke atas permukaan, aku berfikir apakah aku sudah mati? Apakah ini sakaratul maut? Ah yasudahlah aku siap. Lalu kurasakan lagi ada cahaya benderang seperti matahari dan panasnya yang menyengat, kupikir lagi apakah ini alam kubur? Ataukah neraka? Lalu samar kulihat ada bayangan dua orang yang sedang memandangiku, lengkap sudah, pasti ini malaikat Munkar dan Nakir. Aku pasti sudah mati. Kataku dalam hati,
“Ndra… Ndra… Bangun, ayo bangun.” Suara itu memanggilku sambil dadaku terasa ditekan berkali-kali,
“Uhuuk… Uhuk.., Huuuuuuuhhhh.” Suara batuk dan tarikan nafasku seketika,
“Ndra, kamu sudah bisa bernafas.” Tanya malaikat tadi,
“Anu pak malaikat, saya saya masih bolong-bolong sholatnya. Maafkan saya, biarkan saya tetap hidup.” Kataku keras-keras tapi tak berani melihat wajah sang penanya tadi, aku masih berfikir ini adalah malaikat Munkar dan Nakir, karena aku sudah berada di alam kubur dan kata Pak Toha guru ngajiku hal pertama yang ditanyakan adalah ibadah makanya aku menjawab sholatku masih bolong-bolong,
“ Hahahaha, Pak Malaikat?. Hahahaha,” suara tertawaan Pak Malaikat tadi,
Aneh Malaikat kok tertawa terbahak-bahak dengan laporanku tadi ungkapku dalam hati,
“Iya pak, ampun. Saya benar-benar masuh mau hidup pak. Tolonglah saya, tolonglah pak!” lalu kupaksakan melihat barang sekejap saja, ku paksakan melihat dua malaikat itu meski kakinya saja yang berani kulihat, tapi ini aneh, kaki malaikat kok kecil dan kumel seperti ini? Apa malaikat itu jorok? Tanyaku dalam hati,
“Ndra, kamu itu kenapa. Aku ini Rolan,” Jawab Rolan,
“Iya Ndra, kami bukan malaikat. Kami Rolan dan Eno, sahabatmu sekelas di SD Negeri 1 Dayamurni.” Tambah Eno,
“Apa!!!, Bukannya aku sudah mati, ini bukan di alam kubur to? Aku masih hidup to? Kalian ini bukannya malaikat Munkar dan Nakir?” Bantahku sambil bertanya,
“Hahahaha, kamu masih hidup Ndra. Buktinya kamu masih bisa melihat duniat dan duduk dibumi. Kami bukan malaikat, kami sahabatmu. Pegang tanganku, ayo berdiri! Sudah percaya?” jawab Rolan,
“Hahaha, percaya. Kupikir malaikat ada yang kakinya kumel kayak kalian. Hahaha, bercanda-bercanda. Makasih ya bro, kalian adalah sahabat terbaikku. Mulai saat ini kalian jadi saudaraku ya?” kataku sambil tertawa,
“Eits….. tida bissa, masak malaikat temenan sama manusia!” jawab Eno,
Dan kamipun tertawa terbahak-bahak, kupikir aku sudah mati karena paru-paruku telah penuh dengan air. Tapi ternyata Allah masih menginginkanku untuk hidup dan bersahabat dengan mereka dalam satu kelompok, Tiga Serangkai, itulah awal mula kami dipertemukan, kisah yang unik dan takkan pernah kulupakan. Kami adalah saudara, kemarin, saat ini, esok, dan sampai kapanpun.

***
Ada agenda wajib kami di malam ini, jadwal berkumpul jum’at malam di rumah Eno. Rumah yang selalu banyak makanan karena bapak Eno adalah seorang pedagang toko kelontong yang cukup besar di pasar Unit Dua. Wajarlah kalau kami menjadikan rumah Eno sebagai markas tempat berkumpul, selain orangtuanya yang sangat ramah dan rumahnya yang berlantai dua dengan taman kecil di bagian atas lantai duanya, ada kolam ikan berukuran kecil, dengan tanaman ibunda Eno yang terawat rapi.
“My bro semua, aku mau cerita. Tapi sebelumnya aku mau bertanya dulu,  ini masalah serius, aku butuh saran dan pendapat kalian.” Kataku mengawali perbincangan kami,
“Yoi ada apa, kalau bisa ku bantu ya monggo.” Jawab Eno,
“Ya bro, bilang aja.” Jawab Rolan,
“Begini, kita kan sama-sama ngaji, bahkan dalam satu liqo’ dan aku juga masih ingat kalau Akh Eddi juga bilang kalau dalam islam pacaran itu tidak boleh, kalian juga sering mengingatkanku akan hal itu. Tapi bro, apakah kalian tidak pernah jatuh cinta? Dan apakah kalian tidak ingin berpacaran?”
“Baiklah, aku yakin Mas Rolan adalah ahlinya. Silahkan Mas,” Jawab Eno,
“Oke, begini sob. Coba kalimatnya dirubah deh, pacaran itu bolah dalam islam, tapi kalu sudah halal batas  diantara keduanya, artinya sudah menikah. Jadi enak kan dengernya? Ehm kalo masalah jatuh cinta pasti kita sudah pernah merasakannya, itu adalah sifat alami manusia, mencintai dan dicintai itu fitrahnya manusia. So, kalau ditanya pernah jatuh cinta pasti jawabannya iya. Dan kalau ditanya apakah ingin berpacaran jawabannya juga pasti iya, tapi kalau sudah halal atas dirinya bagiku. Didepan kalian aku berjanji, jika aku pacaran dengan tidak berpegangan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kalian berhak mengintimidasiku dan melupakanku dari persahabatan kita. Jadi jangan jadikan pacaran sebelum menikah itu nikmat, itu dosa bro, dan azzabnya besar. Mendekati zina saja tidak boleh apalagi berzina? Meski zina kecil tapi tetap zina kan, dan azzabnya? Luar biasa berat. Pikirkan itu, kalo aku sih masih mempertimbangkan azzabnya. hehe” Jawab Rolan,
“Tapi ini kan sudah zaman modern bro, lalu apakah kita mau ketinggalan zaman dengan tidak pacaran. Sekarang zamannya sudah berubah, kalau kita hanya menunggu jodoh datang lalu kapan kita mendapatkannya, kalo gak pacaran dulu nanti dia diambil orang lagi?” Bantahku heran,
“Sekarang coba pikirkan ini, rukun islam yang kelima adalah menunaikan ibadah haji di mekah iya kan. Dan salah satu rukunnya adalah hanya diperkenankan mengenakan pakaian putih, semua orang yang beribadah di sana diwajibkan begitu kan. Lalu bukankah sekarang sudah modern, dan kenapa semua orang masih menggunakan pakaian serba putih sama seperti yang diajarkan rasul kita sejak ratusan tahun yang lalu. Bukankah itu sama dengan ajaran yang diajarkan rasul tentang berpacaran dalam islam sudah ratusan tahun yang lalu, boleh modern tapi ada syaratnya, yaitu masih dalam batasan islam, masih sesuai tidak dengan hukum islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kalau berbicara masalah jodoh jangan takut, Allah sudah mengaturnya untuk kita, Allah juga berjanji dalam Al-Qur’an bahwa laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik, juga sebaliknya. Kalau saranku sih jangan deh menodai kasucian kita dengan berzina, kasihan sang bidadari yang sedang menunggu kita di negri yang jauh di sana.” Jawab Rolan,
“Lalu pendapat kalian bagaiman kalau aku berpacaran? Apakah kalian masih tetap mau berteman denganku?” Tanyaku,
“Ehm, gimana ya?” Jawab Rolan sambil tersenyum,
“Eits… Kamu Sudah punya pacar ya?” Tanya Eno semangat,
“Emmm, gimana ya. Sebenernya aku tanya soal tadi pada kalian karena aku sudah punya…” Kata-kataku terputus,
“Punya?” Tanya Rolan,
“Iya, punya pacar bro. Sorry ya, aku baru bilang sekarang. Aku benar-benar minta maaf, lalu apakah yang harus kulakukan sekarang bro, aku tahu kalau ini salah, aku bingung harus bagaimana. Aku suka sama dia.” Kataku sambil menatap mata keduanya bergantian,
“Ya, gimana lagi ini sudah pilihanmu.” Kata Eno,
“Aku gak bisa memberikan saran yang banyak, nanti dikira aku pengganggu hubungan kalian. Cukup kamu yang bijak, kurasakan kamu sudah tahu maksud dari perkataan panjangku tadi. Dan kuyakin kamu sendiri sudah dewasa untuk tahu penyelesaian masalah ini.” Jawab Rolan,
Lalu seperti biasa, kami bermalam di rumah Eno sampai waktu subuh dan malam itu menjadi malam yang sangat berat bagiku, entah menjadi malam yang sangat lambat dan lama. Aku tidak bisa tidur sampai larut malam, memikirkan langkah apa yang harus kulakukan dan keputusan apa yang harus kuambil. Aku benar-benar menyukainya tapi aku belum siap jika harus menikah, aku juga tahu hukum islam tentang ini dan aku ah… Bingung harus bagaimana, mungkin inilah rencana Tuhan untuk membuatku lebih dewasa. Malam itu aku melamun panjang, diam dikamar yang cukup luas, Rolan dan Eno sangat nyenyak dalam tidur mereka dan aku tak mau menganggunya. Aku terus memikirkan masalah ini, dan kuambil air wudhu seraya terus membayangkan apakah langkah terbaiknya, lalu aku mulai beranjak berjalan menuju mushola kecil di ruang tamu rumah Eno dan kulaksanakan sholat malam serta sholat isthiqarah. Akhirnya aku tertidur sampai waktu subuh datang, aku terbangun karena Ibunda Eno membangunkanku.
Larangan ini yang manjadikanku merasa tertekan dengan hukum islam, hukum yang sebenarnya baik untukku. Hukum yang semestinya menjadikanku nikmat dalam melaksanakannya, tapi aku benar-benar mengeluh dengan hukum ini, aku benar-benar ingin berontak. Tapi aku ingin patuh kepada Allah, aku juga ingin masuk surga. Lalu selepas malam itu aku telah memiliki jawaban sendiri atas perbuatanku ini. Aku yakin akan melakukan kata hatiku ini, meski terbilang melanggar aku akan melakukan ini karena inilah yang terbaik menurutku untuk saat ini. Yah, ini yang terbaik, pagi sesampainya aku di rumah aku langsung mengirim pesan kepada Anggun akan hubungan kami ini. Aku mengajaknya ke taman sekolah saat jam istirahat nanti, aku sampaikan bahwa aku ingin berbicara sesuatu yang penting padanya.
Aku berpamitan kepada Ibunda untuk berangkat ke sekolah, aku terus saja melamun sepanjang pejalanan, memandangi tanah dan merundukkan kapelaku. Aku takut ini salah, aku takut nanti aku dimusuhi banyak orang, aku takut dengan azzab Tuhan, aku juga takut membuat Anggun menangis. Anggun adalah wanita yang sabar, wanita yang mau selalu menyapaku setiap pagi, wanita yang selalu menemaniku terlambat saat masuk sekolah, dia mau menemaniku terlambat meski awalnya dia menyangkalnya tapi akhirnya dia mengaku sengaja datang terlambat supaya dapat bersamaku dihukum Pak Agung. Wanita ini sangat sabar membuka hatiku, padahal aku dulu sangat membencinya, dan dengan jelas di depannya aku berkata “Wah, wanita kayak gini kok cantik” saat MOS (Masa Orientasi Siswa) dulu, dan suatu ketika dia sangat terlihat anggun saat memakai jilbab merah, itulah pertamakalinya aku memujinya. Oh Anggun memang anggun. Tapi ini salah, dia belum halal bagiku.
“Ada apa to Ndra’ kok tiba-tiba minta ketemua penting kayak gini?” Tanya Anggun saat kami berbincang di taman sekolah ketika jam istirahat,
“Tapi ini tolong di jawab serius ya?” Aku berbalik tanya kepadanya,
“Iya, emang ada apa sih?” Tanya Anggun heran,
“Begini Nggun, aku mau membahas hubungan kita ini. Kamu tahu kan kalu ini salah? Hubungan kita ini salah Nggun!” Kataku sedikit dengan nada keras,
“Ada apa kok kamu tiba-tiba tanya seperti itu Ndra’? apa ada yang salah denganku, bukannya kita tidak melakukan pelanggaran Ndra’? Kita tidak pegang-pegangan tangan, apalagi lebih dari itu, kita kan selalu saling menjaga Nda’? Tanya Anggun sambil matanya mulai kemerah-merahan,
“Iya memang benar, tapi tanpa kita sadari saat inipun kita sedang membuat dosa. Berdua-duaan tanpa orang lain di sekitar kita, ini sudah dosa Nggun. Aku ingin nantinya tidak ada lagi yang membatasi kita seperti ini, aku ingin batas antara kau dan aku sudah halal Nggun, Aku ingin menjadikanmu Ibu dari anak-anakku, tapi tidak sekarang dan tidak seperti ini.” Jawabku tegas, dan kulihat Anggun sudah meneteskan air mata,
“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan hubungan ini? Kita sudahi begitu? Aku gak siap Ndra’, aku gak siap.” Tanya anggun lagi sambil menangis,
“Kita harus mengakhirinya Nggun, kutahu kamu bakalan menangis, tapi inilah yang harus kulakukan demi kebaikan kita. Tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.” Jawabku sambil menenangkan Anggun,
“Ya kalau itu maumu aku tidak bisa membantahnya lagi Ndra’, meski aku sangat sedih. Apa yang ingin kau tanyakan Ndra’?” Jawab Anggun,
“Apa kamu mau jika suatu saat nanti jadi istriku dan ibu dari anak-anakku? Suatu saat nanti Nggun.” Tanyaku lirih,
“Jangankan nanti Ndra’, jikapun saat ini itu terjadi aku mau.” Jawab Anggun,
“Terimakasih Nggun, aku berharap hal itu benar-benar terjadi suatu saat nanti. Aku ingin serius denganmu Nggun, serius dengan hubungan kita, tapi tidak sekarang nanti jika aku sudah bergelarkan sarjana dan aku mamiliki pekerjaan atas pendidikanku pasti aku akan memenuhi janjiku ini. Tapi aku tidak mengikatmu Nggun, jika suatu saat nanti kamu telah memiliki seseorang yang menjadi tamatan hatimu silahkan kamu memilih keputusan yang terbaik untukmu, aku siap jika kamu memang bukan jodohku. Untuk saat ini baiknya kita sudahi hubungan ini. Dan aku tidak melarangmu untuk terus berkomunikasi via handphone denganku. Tapi jangan sering-sering ya. Hehe” Jawabku panjang dan kuakhiri dengan senyum,
“Ya ampun Ndra’, pemikiranmu begitu jauh kesana. Aku akan berusaha menjaga hati ini, menjaganya untuk pangeranku nanti. Terimakasih Ndra’ atas kesempatannya, aku sangat berharap saat-saat itu menjadi nyata. Tapi aku juga manusia Ndra’, semoga inilah yang terbaik untuk kita. Terimakasih Ndra’ atas selama ini…” Kata-kata Anggun sambil tersenyum meski pipinya masih basah oleh air mata,
“Iya gitu dong senyum, kan jadi enak lihatnya. Yaudah deh, masuk kelas yuk, jangan bosen jadi temenku ya, aku yakin kamu adalah temen terhebatku. Ini sapu tanganku, pake’ aja untuk ngusap air matamu aku jadi nggak enak, hehe. Aku pamit dulu ya, Assalamu’alaikum. Dada Nggun,” Kata-kata terakhirku sambil berdiri dan meninggalkan Anggun,
“Makasih Ndra’, makasih banget. Iya, Wa’alaikum Salam.” Jawab Anggun dengan tersenyum,
Dan kutinggalkan Anggun dibangku taman sendirian, aku tak mampu lagi melihat wajahnya yang kemerah-merahan, apalagi hari itu ia memakai kerudung merah warna kesukaannya, aku tambah tak kuat lagi memandaginya. Satu hal yang pasti, aku sudah mengambil keputusan ini, aku hanya ingin menjadikan ini hal indah dalam sejarahku, aku ingin benar-benar hidup dengan tenang. Pacaran yang salah ini memang membuatku terlihat nyaman, tapi sebenarnya kau sangat tertekan. Aku ingin menjaga hati ini sampai saatnya nanti, meski ini juga salah karena aku telah manyampaikan perasaanku pada seorang akhwat, tapi saat ini menurutku adalah langkah terbaik yang kulakukan. Permasalah aku nanti jodoh dengannya atau tidak itu urusan waktu, yang pasti cinta itu indah dengan segala kekuranagnnya, cinta itu indah dengan kelebihannya, cinta itu indah saat jauh, dan cinta itu indah saat dekat. Aku hanya ingin mencintai dengan izin dari cinta-Nya karena itu nikmat, aku juga ingin dicintai dengan cinta-Nya. Ya rabb, izinkan aku jatuh cinta dan menjaga cinta-Mu.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomantar, tapi gunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami ya. ^_^
Untuk yang berkomantar kurang sopan atau mengandung unsur profokasi, admin akan menhapusnya. terimaksih untuk partisipasinya. Selamat berkomentar...

Terimaksih telah berkunjung. Semoga Dapat bermanfaat. Untuk Sobat yang Mau Komentar Tambahkan Komentarmu di ChatBox yang Ada Bagian Dikanan Blog ini^_^

Iklan Sponsor