Selamat Datang Diblognya Danu

Blog umum untuk berbagi infotmasi apapun, ada berita, lagu, video, cerita baik novel ataupun cerpen dan lain-lain. mau download ebooknya juga ada, cekedot!!!

Penasaran???

Tempat Belajar dan Sharing

Kita sabagai warga negara indonesia harus berani, dan siap bersaing dengan pemuda dari negara lainnya. haha gayanya bahasanya baku banget padahal ya sal-asalan. hehe oya disini temen-temen bisa download dan hunting tutorial tentang ngeblog mau tau lebih lanjut silahkan pantengi aja ya.....

Buka

Mau keliling Dunia? Cari tempat favoritmu disini

Berita dan info terkini juga ada, tentunya saya berupaya meng-updatenya terus untuk temen-temen sekalian dan untuk saya sendiri tentunya. mau baca artikel lebih tentunta ada juga disini. untukmu...

Cekidot

Bosen? Cari kesukaanmu disini

Music, video, tips and trik dan masih banyak lagi yang seru-seru lainnya.

Join

Coret-coretan

Memang agak aneh si, soalnya saya ini kuliah di jurusan teknik informatika di STMIK Amikom tapik kok seneng nulis. hehem ya kalo temen-temen berminat silahkan baca ajalah catatanku gak maksa sih cuma menyarankan dengan paksa. hehe bercanda,

Baca yuk
thanks for coming, please help me to click my ad ^_*

Join The Community

Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan

Puasa 9 10 Muharam

 
Puasa 9 10 Muharam disebut juga puasa hari tasu’a dan hari ‘asyura. Hari ‘Asyura adalah hari ke 10 bulan Muharam, sedangkan hari Tasu’a adalah hari ke 9 bulan Muharam.

Hukum puasa pada hari ‘Asyura adalah sunnat muakkad.

وعن ابن عباس رضى الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه وسلم صام يوم عا شوراء وامر بصيامه



“Dari Ibnu ‘Abbas r.a, bahwa Rasulullah saw melakukan puasa pada hari ‘Asyura dan beliau memerintahkan untuk melakukannya”
(Muttafaq ‘alaih)


Imam Bukhori dan Imam Muslim berpendapat bahwa kata “memerintahkan” pada hadits tersebut hukumnya tidak sampai derajat wajib, tetapi sunat.

Pahala melakukan puasa pada hari ‘Asyura adalah sesuai dengan hadits :


وعن ابي قتادة رضى الله عنه ان رسول الله سئل عن صيام يوم عا شوراء فقال يكفر السنة الماضية


“Dari Ibn Qatadah r.a, bahwa Rasulullah saw ditanya soal puasa pada hari ‘Asyura. Beliau bersabda bahwa puasa hari ‘Asyura bisa mengkafarati dosa (kecil) selama satu tahun ke belakang”. 
(HR Muslim)


Hukum puasa pada hari ‘Tasu’a juga sunnat , sesuai hadits nabi :


وعن ابن عباس رضى الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لئن بقيت الى قابل لا صومن التاسع


“Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan”.
(HR Muslim)


Hikmah dianjurkannya puasa hari ke 10 disertai dengan hari sebelumnya/hari ke 9 adalah :
1. supaya berbeda dengan umat Yahudi, karena mereka juga dulu menjalankan tradisi puasa bertepatan pada tanggal 10 muharam saja, sehingga untuk membedakannya disunatkan bagi umat Islam melakukan puasa pada tanggal 9 10 muharam
2. menjaga kehati-hatian dari salah penanggalan awal muharam terutama bagi mereka yang ragu-ragu penentuan tanggal 1 muharam.
3. menjaga dari sebagian pendapat ulama bahwa puasa hanya 1 hari tanpa ada hari lain yang menemani adalah hal yang kurang baik, hal ini berdasarkan itba’ kepada pendapat yang menyatakan bahwa puasa pada hari jumat saja tanpa hari sebelum atau sesudahnya adalah kurang baik, namun Imam Syafi’I dalam Al Um, menegaskan bahwa tidak apa-apa menjalankan puasa hanya pada tanggal 10 Muharamnya saja, tanpa hari sebelumya. 

Sedangkan mengenai puasa pada tanggal 11 Muharam, sebuah hadits riwayat Imam Ahmad menyatakan :


صوموا يوم عا شوراء وخالفوا اليهود وصوموا قبله يوما وبعده يوما



“Puasalah kamu pada hari ‘Asyura dan berbedalah dengan puasa kaum Yahudi, dan puasalah sehari sebelumnya serta sehari setelahnya”

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
(Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon ampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya)
Keluarga kajian yang dimanapun berada, semoga selalu berada dalam limpahan rahmat dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Beberapa hari lagi, tahun hijriah akan bertambah angka digit terakhirnya dan tak terasa satu tahun Allah swt telah memberikan kita kesempatan untuk hidup meraih rahmatNya sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Bulan Muharram sebagai awal bulan pembuka Tahun Hijriah memiliki keistimewaan tersendiri diantara bulan Hijriah lainnya, berikut mari kita simak Ayat cintaNya dan Hadist tentang Bulan Muharram dan keutamaan Puasa Asy-syuara di Bulan Muharram.
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah dimana empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Allah swt  berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram,” (QS. At Taubah: 36)
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang, bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai rasa syukur atas pertolongan Allah.
Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan.
Ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma :
Bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bershaum pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut. [HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang shaum pada hari Asyura`, maka beliau menjawab :
“(Shaum tersebut) menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.” [HR. Muslim 1162)
Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.
Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa “Shaum ‘Asyura` memiliki empat tingkatan :
Tingkat Pertama : bershaum pada tanggal 9, 10, dan 11. Ini merupakan tingkatan tertinggi. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad : Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Selisihilah kaum Yahudi.” Dan karena seorang jika ia bershaum (pada) 3 hari (tersebut), maka ia sekaligus memperoleh keutamaan shaum 3 hari setiap bulan.
Tingkat Kedua : bershaum pada tanggal 9 dan 10. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Kalau saya hidup sampai tahun depan, niscaya aku bershaum pada hari ke-9.” Ini beliau ucapkan ketika disampaikan kepada beliau bahwa kaum Yahudi juga bershaum pada hari ke-10, dan beliau suka untuk berbeda dengan kaum Yahudi, bahkan dengan semua orang kafir.
Tingkat Ketiga : bershaum pada tanggal 10 dan 11.
Tingkat Keempat : bershaum pada tanggal 10 saja. Di antara ‘ulama ada yang berpendapat hukumnya mubah, namun ada juga yang berpendapat hukumnya makruh.
Yang berpendapat hukumnya mubah berdalil dengan keumuman sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shaum ‘Asyura`, maka beliau menjawab “Saya berharap kepada Allah bahwa shaum tersebut menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” Beliau tidak menyebutkan hari ke-9.
Sementara yang berpendapat hukumnya makruh berdalil dengan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Selisihilah kaum Yahudi. Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” Dalam lafazh lain, “Bershaumlah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” Sabda beliau ini berkonsekuensi wajibnya menambahkan satu hari dalam rangka menyelisihi (kaum Yahudi), atau minimalnya menunjukkan makruh menyendirikan shaum pada hari itu (hari ke-10) saja. Pendapat yang menyatakan makruh menyendirikan shaum pada hari itu saja merupakan pendapat yang kuat.”
Kesibukan yang ada, terkadang membuat kita lupa esok tanggal berapa, jika saat ini keluarga kajian dekat dengan alat yang bisa mengingatkan keluarga kajian semua akan pentingnya shaum bulan Muharram, kita buat “reminder” yuk, bersiap menyambut keutamaannya dengan berniat untuk melaksanakannya esok di tanggal 9, 10 Muharram. Selamat menempuh tahun baru dengan peluang kesuksesan dan kenikmatan memperoleh rizki di dunia untuk mendapatkan akhiratnya.
=div.kreatif=
Sumber :
Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi
Penjelasan ustadz Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam ulamasunnah.wordpress.com dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta` dalam ikhwanmuslim.or.id

Kata-kata Inspiratif Einstein


Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah pencapaian terbaik bagi seluruh umat manusia, sekalipun cuma dihasilkan oleh beberapa gelintir manusia saja.
Otoritas
Hidup telah membuat saya memiliki otoritas – terhadap hidup saya sendiri.
Kebenaran
Lebih mudah mengatakan kebohongan – daripada mengenali kebenaran.
Kerjasama
Lebih dari seratus kali sehari – saya mengingatkan diri saya, bahwa saya hidup – karena hasil kerja keras orang lain. Baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Maka, saya harus bekerja keras – untuk memberikan sesuatu yang sebanding – dengan yang telah dan yang masih saya terima – hingga hari ini.
Kebijaksanaan
Kebijaksanaan bukan sebuah produk dari sekolah, dibutuhkan waktu seumur hidup untuk mencapai kebijaksanaan.
Kebahagiaan
Seseorang bahagia jika dia bisa hidup pada saat ini. Jika seseorang terlalu banyak berpikir tentang hari esok, maka dia akan kehilangan kebahagiaannya.
Terkenal
Ketenaran hanya membuat seseorang menjadi semakin bodoh dan bodoh.
Hidup
Hidup itu suci, hidup adalah nilai tertinggi dari semua yang ada.
Kedewasaan
Aku akan disebut dewasa – saat tidak ada orang yang mengingatkan saya - bahwa saya lupa memakai kaos kaki.
Kehormatan
Bekerja adalah satu-satunya cara untuk membuat seseorang menjadi tidak gila hormat.
Teori Relativitas
Satu jam duduk bersama seorang gadis cantik terasa seperti satu menit, tetapi duduk di atas kompor selama satu menit akan terasa seperti satu jam.
Takut
Ketakutan dan kebodohan biasanya menjadi dasar – atas semua tindakan manusia.
Tujuan
Jangan tentukan tujuan hidup yang simpel dan mudah dicapai. Tetapi tentukan tujuan hidup yang sulit dan tidak masuk akal, agar engkau akan dapat mengupayakan seluruh hidupmu untuk mencapainya.
Rasisme
Satu-satunya cara menangkal rasisme adalah dengan pendidikan dan pencerahan, tetapi ini akan memakan waktu lama dan sangat melelahkan.
Kesendirian
Saya selalu hidup sendiri dan diasingkan sewaktu muda, tetapi kesendirian dan pengasingan itu berhasil membawa saya – di tengah kerumunan orang sewaktu saya tua.
Nilai
Cobalah untuk tidak hanya berusaha menjadi orang sukses, tetapi berusahalah untuk menjadi orang yang bernilai.
Imajinasi
Imajinasi dan kreatifitas lebih penting dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada.

Cerita Motivasi Islam, Kisah Tentang Pembunuh 99 Orang


Dalam sebuah hadits yang diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim secara sepakat disebutkan bahwa: dahulu di kalangan orang-orang yang sebelum kalian -yakni kaum Bani Israil- ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Lelaki ini telah berlumuran darah. Jari-jemarinya, pakaiannya, tangan, dan pedangnya, semuanya basah oleh darah, karena telah membunuh 99 orang dari kalangan orang-orang yang jiwanya terpelihara. Padahal seandainya semua penduduk bumi dan penduduk langit bersatu-padu untuk membunuh seorang lelaki muslim, tentulah Allah akan mencampakkan mereka semuanya dengan muka di bawah ke dalam neraka. Maka terlebih lagi dengan seseorang yang datang dengan pedang yang terhunus, sikap yang kejam, jahat, lagi emosi, akhirnya dia membunuh 99 orang.

Lelaki pelaku kejahatan ini telah melumuri dirinya dengan darah banyak orang dan membinasakan banyak jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya serta mencabut nyawa mereka. Sesudah dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, ia menyadari kesalahannya terhadap Allah. Ia pun ber­pikir tentang hari pertemuannya dengan Allah nanti, teringat saat hari kedatangannya kepada Allah untuk mempertanggungjawab­kan semua dosanya. Dia meyakini bahwa tiada yang mengampuni dosa, yang menghukumnya, yang menghisabnya, dan yang membenci seorang hamba karena dosa, kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Selanjutnya, ia berpikir untuk kembali dan bertaubat kepadaNya agar Dia membebaskannya dari neraka.
“Sesungguhnya para raja pun bila budak-budaknya telah beruban dalam perbudakannya mereka pasti akan memerdekakannya dengan pembebasan yang baik. Dan Engkau, wahai penciptaku, jauh lebih murah daripada itu. Sekarang sungguh aku telah beruban dalam penghambaan diri maka bebaskanlah diriku dari neraka.”
Maka keluarlah ia dengan pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih meneteskan darah segar dan jari-­jemarinya berbelepotan darah. Ia datang bagaikan seorang yang mabuk, terkejut, lagi ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang: “Apakah aku masih bisa diampuni?”
Orang-orang berkata kepadanya: “Kami akan menunjukkanmu kepada seorang rahib yang tinggal di kuilnya, maka sebaiknya kamu pergi ke sana dan tanyakanlah kepadanya apakah dirimu masih bisa diampuni.”
Dia menyadari bahwa tiada yang dapat memberi fatwa dalam masalah ini, kecuali hanya orang-orang yang ahli dalam hukum Allah. Ia pun pergi ke sana, ke tempat rahib itu, seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israil yang belum pernah merasakan manisnya ilmu dan tidak pernah membekali dirinya dengan pengetahuan, penelitian, dan penguasaan terhadap masalah-­masalah agama. Dia hanya melakukan ibadahnya menurut tata cara yang dibuat-buatnya sendiri tanpa ada dalil, baik dari syari’at maupun agama.
Perhatikan QS. AL-HADJlD (57): 27, yang artinya:
“Dan mereka mengada-adakan kerahiban, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-­adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak meme­liharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. “
Sesungguhnya agama itu bila tidak dibarengi dengan cahaya hidayah dan ilmu, sama dengan kesesatan dan bid’ah yang bertumpang-tindih antara yang satu dan yang lainnya.
Ia pun pergi dengan langkah yang cepat dengan penuh penyesalan karena dosa-dosa yang telah dilakukannya, lalu ia mengetuk pintu kuil si rahib tersebut.
Rahib tersebut mengharamkan kepada dirinya sendiri: daging, makanan yang baik, pakaian yang baik, dan kawin, padahal Allah tidak mengharamkan semuanya itu atas dirinya. Dia lakukan hal tersebut karena kejahilannya tentang maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia pun keluar menyambutnya.
Lelaki pembunuh ini masuk dan ternyata pakaiannya masih berlumuran darah segar, membuat si rahib kaget dan terkejut bukan kepalang. Si rahib berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu.”
Sambutan ini jelas bukan tata cara yang biasa digunakan oleh para ulama dan para da’i yang menghendaki hidayah bagi manusia, karena pintu Allah selalu terbuka; pemberiannya senantiasa datang dan pergi; pahala-Nya dianugerahkan; tangan kekuasaan­Nya senantiasa terbuka pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa pada siang harinya, dan senantiasa terbuka pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdo’a pada malam harinya, hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya (hari Kiamat).
Si pembunuh bertanya: “Wahai rahib ahli ibadah, aku telah mem­bunuh 99 orang, maka masih adakah jalan bagiku untuk bertaubat?”
Rahib yang jahil itu spontan menjawab: “Tiada taubat bagimu!”
Mahasuci Allah, apakah engkau menutup pintu yang selalu dibuka oleh Allah? Apakah engkau memutuskan tali yang telah dijulurkan oleh Allah? Apakah engkau mencegah hujan yang telah diturunkan oleh Allah? Apakah engkau menutup jalan masuk yang telah dibuat oleh Allah?
Padahal Allahlah yang menciptakan; Allahlah yang telah menetapkan; Allahlah yang memberikan ampunan; Allahlah yang menghisab; dan Allahlah yang berbisik kepada seorang hamba pada hari yang tiada bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih, lalu Allah menyuruhnya mengakui dosa-dosanya, kemu­dian Allah mengampuninya jika Dia menghendaki. Maka apakah urusanmu, hai rahib, sehingga engkau ikut campur dalam urusan antara para hamba dan Tuhannya?
Apakah engkau memang seorang yang ahli untuk memberi fatwa dalam masalah ini? Bukan, engkau bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini. Hal ini hanya bisa ditangani oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya lagi mengetahui tujuan syari’at-Nya.
Akhirnya, si penjahat ini putus asa memandang kehidupan ini. Di matanya dunia ini terasa gelap; kehendak dan tekadnya melemah; dan keindahan yang terlihat di wajahnya menjadi buruk. Ia pun mengangkat pedangnya dan membunuh rahib ini sebagai balasan yang setimpal untuknya guna menggenapkan 100 orang manusia yang telah dibunuhnya.
Selanjutnya, ia keluar menemui orang-orang guna menanya­kan kembali kepada mereka, bukan karena alasan apa pun, melainkan karena jiwanya sangat menginginkan untuk taubat dan kembali ke jalan Tuhannya serta menghadap kepada-Nya.
Ia bertanya kepada mereka: “Masih adakah jalan untuk ber­taubat bagiku?”
Mereka menjawab: “Kami akan menunjukkanmu kepada Fulan bin Fulan, seorang ulama, bukan seorang rahib, yang ahli tentang hukum Tuhan.”
Sehubungan dengan pengertian ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan­nya melalui ayat-ayat berikut, yaitu firman-Nya:
Dalam QS. AZ-ZUMAR (39): 9, yang artinya:
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

sumber: http://rahmatmuntaha.com/kisah-pembunuh-99-orang/

Kisah Inspiratif Islami ~ Muhammad al-Fatih


Muhammad Al Fatih lahir pada 29 Maret 1432 M di Adrianapolis. Merupakan panglima dan raja Islam yang hebat. Dalam hadits di atas bahwa Muhammad Al-Fatih oleh Rasulullah dikatakan adalah sebaik-baik raja dan sebaik-baik tentara. Muhammad Al-Fatih merupakan panglima perang yang membebaskan Konstantinopel.
Muhammad Al-Fatih kemudian menjadi raja di Konstantinopel pada umur 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451-1481). Muhammad Al-Fatih wafat pada 3 Mei 1481, karena sakit. Dia merupakan seorang negarawan dan panglima perang yang ulung di segani baik lawan maupun kawan.
Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik dan strategi dalam peperangannya dia dikatakan mendahului pada zamannya dan kaedah dalam memilih pasukannya. Dia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq. Selain pandai dalam taktik perang Muhammad Al-Fatih merupakan cendekiawan muslim yang pandai dalam ilmu sains, matematika dan tujuh bahasa (Bahasa Arab, Latin, Greek, Serbia, Turki, Parsi dan Hebrew) saat berumur 21 tahun.
Muhammad al_fatih merupakan orang pertama mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhan). Kini nama tersebut di ganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk mengenang jasanya di bangunlah masjid yang di beri nama Masjid Al-Fatih di dekat makamnya.
Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Konstantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil Muhammad Al-Fatih didik secara masif oleh beberapa ulama terkemuka oleh ayahnya, di antaranya adalah Asy-Syeikh Muhammad bin Isma’il Al-Kurani Asy-Syeikh Al-Kurani dan Syekh Syamsuddin.
Dalam menaklukkan Konstantinopel Muhammad Al-Fatih tidak secara gegabah melancarkan serangan. Akan tetapi, dia melalui proses yang sangat teliti. Karena para pendahulunya dalam penaklukan Konstantinopel selalu mengalami kegagalan. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khalifah Umayyah. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190 H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656 H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arselan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus IV/Armanus), tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.
Awal kurun ke-8 hijriyah, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sulthan Yildirim Bayazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.
Akhirnya pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M, Muhammad Al-Fatih dan bala pasukannya menyerang Konstantinopel. Dia terlebih dahulu mengumandangkan kalimat takbir dan berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah. Dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits Nabi tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini dilakukan agar pasukannya mempunyai semangat yang tinggi dan disambut oleh pasukannya dengan dzikir, puji-pujian, dan doa kepada Allah.
Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Byzantium di sana. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar” terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan langit-langit dan dinding bangunan Konstantinopel runtuh seketika. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka.
Pada penyerangan di Konstantinopel selama 53 hari, pasukan Muhammad Al-Fatih mengalami kebosanan. Sehingga dia berkata “Wahai tentaraku, aku bersedia untuk mati di jalan Allah. Lalu siapa yang mau syahid ikutlah aku”
Mendengar ucapan Muhammad Al-Fatih Hasan Ulube salah seorang tentaranya melompat masuk ke barisan musuh dengan membawa bendera Islam. Lalu mereka gugur sebagai syuhada bersamaan dengan anak panah yang menancap di tubuhnya.
Setelah Konstantinopel di kuasai oleh umat Islam di bawah kepemimpinan Muhammad Al-Fatih. Ada suasana yang menarik di waktu pertama kali menunaikan shalat Jum’at, timbul pertanyaan di benak kaum muslimin dan benak Muhammad Al-Fatih. Kemudian Muhammad Al-Fatih berdiri lalu berucap “Siapa di antara kita sejak baligh sampai sekarang pernah meninggalkan shalat fardu, walaupun sekali saja?” tidak seorang yang duduk, karena para tentaranya tidak seorang pun yang meninggalkan shalat fardu.
Muhammad Al-Fatih bertanya lagi, “Siapa di antara kita sejak baligh sampai sekarang meninggalkan shalat sunnah rawatib silahkan duduk?” sebagian daripada tentaranya duduk.
Kemudian Muhammad Al-Fatih bertanya lagi, “Siapa di antara kamu sejak baligh sampai sekarang pernah meninggalkan shalat tahajjud walaupun satu kali saja?”. Kali ini semua tentaranya duduk, kecuali Muhammad Al-Fatih sendiri. Sehingga yang menjadi Imam shalat Jum’at pertama kali di Konstantinopel adalah Muhammad Al-Fatih.
Dalam sejarah di katakan bahwa Muhammad Al-Fatih sejak akil baligh tidak pernah meninggalkan shalat fardu, shalat sunnah rawatib dan shalat tahajjud. Inilah panglima perang sekaligus pemimpin pemerintahan yang patut ditiru dan di teladani, sesuai dengan isyarat Rasulullah dalam haditsnya Muhammad Al-Fatih merupakan sebaik-baik raja dan bala tentaranya.

Terimaksih telah berkunjung. Semoga Dapat bermanfaat. Untuk Sobat yang Mau Komentar Tambahkan Komentarmu di ChatBox yang Ada Bagian Dikanan Blog ini^_^

Iklan Sponsor