Sekolah kita akan jadi sekolah pertama yang membawa piala tinggkat propinsi pada ajang karya tulis yang tahun ini benar-benar menjadi ajang paling populer di media massa maupun di sekolah-sekolah pada umumnya. Aku adalah laki-laki pertama yang akan membawa piala tingkat propinsi itu, ujar lelaki yang sebenarnya lebih tepat anak muda karena usianya baru 16 tahun.
“Aku benar-benar ingin jadi hero di sekolah kita pak, khususnya dimata sekolah-sekolah yang lainnya” senyap-senyap kudengar dari mulut lelaki itu saat aku tak sengaja mendengar ketika lewat di depan ruang waka kesiswaan,
Lelaki itu meminta izin untuk mengikuti lomba karya tulis yang diadakan oleh salah satu universitas suwasta di daerah kami, lomba yang diadakan setiap tahunnya itu ternyata menjadi salah satu ajang yang sangat diminati berbagai sekoalah di daerah tempat kami tinggal ini. Memang hadiahnya besar untuk kalangan sekolah dengan tutup asbes yang tiap siangnya sangat panas bagaikan dipanggang di oven dengan suhu seratus derajat celsius, atau suara briksik ketika hujan datang seperti kerumunan anak kecil yang sedang memukuli kayu dan kaleng berisik minta ampun, itulah yang sering sekali terjadi disekolah kami yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari kuburan desa. Warnanya jingga warna sekolah yang tak ada duanya, dan rasanya tak ada lagi sekolah macam ini di tempat lain, aku dan teman-teman sering menyebut sekolah kami dengan sekolah nomor satu di dunia atau sekolah lain daripada yang lain, kalian pasti berfikir bahwa pemilihan warna jingga agar sekolah kami terlihat kreatif tapi sebenarnya tidak sama sekali, warna jingga itu kalian tahu dari mana? Warna itu akibat warna yang luntur karena sudah puluhan tahun sekolah kami tak pernah direhabilitasi, dulunya kata bunda sekolah kita berwarna merah marun yang sangat indah dan membuatnya menjadi sekolah favorit siswa serta menjadi andalan orangtua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah kita ini. Hey, itu bundaku yang bercerita, cerita indah sekolah kita yang terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Sekolah keturunan sejak dari bundaku, pamanku, kakakku, dan aku sekarang.
***
“Kita akan membuat konsep tentang perlu adanya kesadaran masyarakat tentang sekolah, atau ayo sekolah” papar lelaki yang kulihat di ruang wakil kepala sekolah tadi,
“Alasannya apa Ran?” Tanya rekan satu timnya,
“Sederhana, yang pertama tentunya kita lihat disekitar kita bahwa banyak masyarakat yang beranggapan hanya menjadikan anaknya sebagai penerus usaha bapaknya, atau dalam artian sempit mereka hanya perlu mendidik anaknya sendiri karena nantinya hanya mengantikan posisi bapaknya. Untuk anak wanita kan mereka akan menjadi istri, makanya tidak usah sekolahpun bisa.” Jawab lelaki itu lantang,
“Setuju, so masalah tema kita sudah setuju semua ya? Dan…. Untuk masalah dana dan izin dari sekolah giman Ran?” Tanya Ari teman satu timnya tadi,
“Aku tadi sudah berbicara dan mengusahakan mati-matian untuk masalah ini dengan waka kesiswaan, kata beliau boleh-boleh saja. Tapi tidak janji kepala sekolah mengizinkan, saat kutanya mengapa jawab beliau ini masalah dana, sekolah kita tak punya dana untuk lomba kita ini…..” kata-kata Randi terputus,
“Lalu gimana dong?” Tanya Ari,
“Aku jawab saja, kami akan mengusahakan sendiri pak dananya.” Jawab Randi santai,
“Apa Ran, gemblung kamu. Dana dari mana, belum biaya sewa komputer untuk ngetik nanti, ngeprint, njilit, belum kalo salah, ini-itu, makan, dan transportasi kita gimana, biaya pendaftaran uang darimana? Gemblung kamu Ran!” kata Ari dengan nada keras,
“Berfikirlah berani bro, ambil resiko yang paling tinggi. Setidaknya kita sudah mencoba, masih ada waktu tiga bulan untuk mempersiapkannya, cukuplah untuk mencari uang lima ratus ribu untuk pendaftaran dan transportasi kita. Masalah makan biar aku yang membawa dari rumah nanti kalau kau keberatan membawa, komputer untuk apa menyewa, kita pinjam saja komputer sekolah setelah jam kerja, kita lembur di sini, mesin cetaknya juga begitu. Sekolahkan punya, masih takut kau? Sekarang pilihan ada ditanganmu, pecundang apa pemenang?” jawab Randi dengan semangat,
“Tapi… apa kita mampu?” Tanya Ari ragu,
“Inilah yang membuat kita kalah, membayangkan hal terburuk sebelum mencoba? Pengecut, lebih baik kalah atau membayangkan kekalahan, nikmat menang dan kalah akan kita rasakan kalau kita sudah mencoba!” Kata Randi tegas,
“Baiklah, aku ikut.” Jawab Ari,
Aku jadi membayangkan kemenangan yang sangat indah itu setelah melihat dialog mereka berdua di depan mushola tadi, semangat yang terwujud demi mengikuti lomba yang tak pernah lagi diikuti sekolah kita sejak puluhan tahun lalu. Sekolah kami dulu pernah ikut serta namun tidak memperoleh juara sama sekali, dana yang digunakan untuk merehabilitasi sekolah kami bahkan telah digunakan untuk lomba itu, namun na’as medali perak pun tak kami dapatkan. Sebab itu sekolah sangatlah benci akan lomba-lomba macam ini, dan sebab itu pula sekarang sekolah kami menjadi warna jingga, sekolah lain daripada yang lain. Lalu kuhampiri mereka dan aku menawarkan bantuan dengan masalah dana yang mereka butuhkan, aku tawarkan mereka untuk bekerja menjadi buruh di toko Mas Iwan, toko klontong yang paling ramai pembelinya,
“Bro, kenalkan namaku Diandranu. Aku boleh bantu gak, maaf tadi denger percakapan kalian.” Tanyaku
“Ow boleh-boleh,” Jawab Ari dan Randi,
“Ada bantuan apa nih Ndra?” Tanya Randi,
“Ini, kemarin Mas Iwan yang punya toko di depan pasar itu bilang kalo sedang nyari pegawai di tokonya untuk bantu-bantu katanya. Lumayan lho, seratus lima puluh ribu sebulannya.” Jawabku,
“Terus jam kerjanya giman Ndra?” Tanya Ari,
“Ya part time bisa sore sama yang pasti hari minggu sejak pagi soalnya kan pas hari pasaran. ” Jawabku, -part time (paruh waktu)-
“Oke, makasi ndra atas bantuannya. Kamu mau ikut kerja tempat Mas Iwan juga?” Tanya Randi,
“Iya, makanya aku cari taman. Hahaha” Jawabku sambil tertawa,
Akhirnya kami tertawa riang sejenak agar tak ada lagi pikiran yang mengganjal di hati, seolah-olah masalah mereka sudah terhenti dan tinggal memetik hasilnya saja. Padahal ini belum dimulai, baru bayangan awalnya saja. Tapi kawan, ternyata membayangkan kemenangan itu amatlah indah. Amboy!!! Membuat kita senang dalam situasi apapun, dan sore itupun kami langsung mendaftar jadi karyawan (buruh) di toko Mas Iwan.
***
“Kata pengantar sudah jadi, surat persetujuan sudah jadi, halaman pengesahan, daftar pustaka, daftar isi, dan penutup sudah, ini tinggal menyempurnakan isinya Ran.” Kataku ketika menggantikan tugas Ari untuk mengetik,
“Alhamdulillah woke semuanya, kayaknya bakal ada piala baru nih di lemari piala-piala itu. Hahaha” dan kamipun tertawa bersama-sama dengan perkataan Ari itu,
Tanpa kusadari aku telah masuk dan bergabung dengan mereka sudah tak kurang dari dua bulan lamanya, kami terus berkonsentrasi dengan pembuatan karya tulis ini. Tiap jam tiga sore sampai isya’ kami bekerja di toko Mas Iwan, dan ba’da isya’ kami bergegas kerumah Pak Dur yang merupakan penjaga sekolah untuk meminta kunci kantor agar kami bisa meminjam komputer sekolah untuk mengerjakan karya tulis kami. -ba’da (setelah)-
Dan akhirnya tinggal dua minggu lagi tiba waktunya pengumpulan terakhir karya tulis kepihak panitia, dan kamipun giat belajar untuk menghadapi tes wawancara terkait tulisan yang kami buat. Aku hanya sebagai rekan kerja, karena lomba hanya membolehkan dua orang saja dalam satu tim maka dari itu aku tak bisa turut serta dalam lomba tersebut, namun tenagaku masih bisa kuberikan pada mereka, dua orang dengan semangat yang luar biasa. Dan malam itu, dua minggu sebelum lomba kami berjanji akan membawa piala juara satu ke sekolah kita.
Hari-hari berganti, tinggal tiga hari lagi lomba digelar, karya tulis telah siap, materi telah ada di otak, softcopy dalam power point telah dibuat. Sekarang tinggal relaksasi sebelum lomba,
“Mau kemana kita sore ini?” Tanya Randi padaku dan Ari,
“Ke mall. Haha.” Jawabku bergurau, mana ada mall di kampung kumuh ini
“Ke sawah saja yuk, gratis dan indah lagi.” Jawab Ari
“Untuk apa mencari yang gratis, uang kita selama bekerja di Toko Mas Iwan kan sudah lebih dari cukup untuk sekedar jalan-jalan.” Kata Randi,
“Gak usah lah, mending kita kesawah saja yang gratis. Nanti uangnya kan bisa dimanfaatkan untuk yang lain.” Jawabku,
“Okelah kalo begitu,” Jawab mereka berdua,
Dan kamipun bergegas ke toko Mas Iwan untuk meminta gaji kami selama bekerja di tampatnya. Dan kami berterimakasi serta mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai buruh tersebut. Lalu, sesuai rencana kami menuju sawah dan bermain-main di sana sampai waktu maghrib. Bercanda, tertawa, dan saling ejek mewarnai sore kami yang ramai itu. Setelah maghrib tiba kami bergegas pulang,
“Assalamu’alaikum semuanya, sampai ketemu besok ya!” Sapa Randi sambil berpisah,
“Wa’alaikum salam, hati-hati dijalan bro!” Jawabku dan Ari
Aku dan ari berjalan bersama karena rumahku berdekatan dengannya, sekitar seratus meter, dan rumah Randi berada diarah berlawanan dari jalan menuju rumah kami. Kami nikmati hari ini dan kami nikmati sampai malam tiba. Akhirnya sang mentari menyapaku dipagi selanjutnya, indah dan mengagumkan. Sejuk dan membawa kedamaian, aku pamit pada Bunda dan Ayah untuk berangkat ke sekolah. Dan aku hampiri Ari untuk berangkat bersamaku, dan kamipun berangkat bersamaan. Aneh, biasanya di gang jalan ini Randi sudah sabar menunggu kami tapi hari ini ia tidak ada. Sampai beberapa waktu kami menunggunya akhirnya kami memutuskan untuk berangkat dahulu tanpa Randi.
Sampai sekolah hasilnya tetap nihil, Randi tidak ada di kelas ia belum masuk. Sampai bel berbunyi, bahkan sampai pulang sekolah Randi belum menampakkan batang hidungnya. Saat itu kami berfikir mungkin Randi sedang pergi, karena mendadak ia lupa membuat surat. Dan hari berikutnya kejadian itu masih terulang, Randi tetap tidak hadir di sekolah. Dan sepulang sekolah kami berinisiatif untuk datang ke rumah Randi, dan akhirnya bel akhir dari pelajaran berbunyi kamipun bergegas berangkat untuk kerumah Randi.
Sesampainya di sana ternyata Randi sedang ke apotek membeli obat untuk ayahnya. Ternyata dari penuturan ibunya, “Randi tidak berangkat dua hari ini karena Ayahnya sakit, dia tidak mau sekolah kalau Ayahnya belum sembuh”. Oh itu penyebabnya mengapa Randi tidak masuk, tapi besok adalah waktunya perjuangan akhir kita. Lalu bagaimana dengan perjuangan kita selama ini kalau akhirnya seperti ini, Randi adalah orang yang sangat sayang dengan Ayahnya, sehingga jika Ayahnya berkata apapun maka Randi akan menurutinya.
Tak lama berselang akhirnya Randi datang, dengan senyum ia berkata
“Hay bro, sudah lama?” Kata-katanya seperta tidak ada masalah sama sekali,
Akhirnya kami mengobrol dan samapi pada akhirnya ia berkata, “Mungkin ini takdir Tuhan, kita tidak diizinkan untuk lomba itu. Bukan karena Ayahku tidak memperbolehkannya, tapi karena dana untuk lomba itu telah ku gunakan untuk berobat Ayahku. Maafkan aku kawan.”
Tidak mungkin, tidak mungkin ini akhir dari semua. Kataku dalam hati, “Hey teman-teman, ini belum berakhir. Lihatlah janji Tuhan untuk kita, Ia tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau merubahnya ini bukan takdir Tuhan. Malam ini ayo kita datangi rumah kepala sekolah untuk meminta dana keberangkatan lomba itu. Meski terdengar mustahil tapi coba kita berterus terang tentang masalah ini, aku yakin beliau pasti faham.” Dan akhirnya mereka menuruti apa saranku tadi, malam itu kami bertiga langsung berkunjung ke rumah kepala sekolah dengan masih mengenakan seragam sekolah. Kami berdebat panjang dengan kepala sekolah,
“Kalian tahu, kemarin dana untuk rehabilitasi sekolah jingga kita telah sampai, danu itu untuk gerbang kita yang sudah reok dan asal kalian tahu bahwa itu adalah dana terakhir yang masih kita miliki. Bapak tidak mau menanggung resiko lagi, dulu sekolah kita kalah dalam ajang ini dan mengakibatkan sekolah kita menjadi berwarna jingga seperti ini. Resikonya kalian harus menang, titik. Kalian berani bertanggung jawab? Bapak beri waktu kalian lima menit untuk mengambil keputusan. Bapak mau kebelakang dulu.” Kata kepala sekolah menggretak,
“Berfikirlah berani bro, ambil resiko yang paling tinggi. Setiaknya kita sudah mencoba. Aku masih ingat kau katakan itu Ran, sekarang buktikan!” Kataku meyakinkan Randi, dan beberapa saat kepala sekolah mendatangi kami lagi,
“Bagaimana? Kalian siap, atau kalian akan jadi penanggung jawab dari tidak direhabilitasinya sekolah kita. dan bapak pastikan tidak akan ajang lomba semacam itu lagi akan kita ikuti.” Tanya kepala sekolah sambil menakuti kami,
“Baik pak, akan kami ambil resiko itu. Dan kami pasti menang, kami janji kami akan membanggakan sekolah kita. kami akan jadi hero pak.” Kata Randi tegas,
“Ya, kalian sudah berani bertanggung jawab. Bapak sekarang tinggal berharap yang terbaik untuk kita semua, silahkan malam ini menemui Pak Tomo dengan membawa surat ini untuk mengambil uangnya.” Jawab pak Kepsek,
“Baik pak terimakasih banyak, terimakasih banyak pak.” Kata-kata kami kompak sambil bergegas menuju kerumah Pak Tomo selaku Bendahara sekolah.
Malam itu kami telah mendapatkan dana yang kami butuhkan. Dan keesokan harinya Randi dan Ari beangkat menuju tempat perlombaan. Perasaan takut bercampur was-was dan percaya diri mewarnai keberangkatan mereka. Senyum itu aku yakin senyum yang siap membawa piala selama dua hari lamanya perlombaan. Lama aku menunggu digerbang sekolah, mereka belum juga sampai. Akhirnya saat aku melangkah untuk meninggalkan sekolah karena sudah tidak ada lagi siswa yang ada disekolah tiba-tiba ada suara yang memanggilku, pertama kali kuabaikan karena kupikir hanya khayalanku semata tapi,
“Adra, Andra!!!!!” suara itu lagi,
Aku menoleh, ternyata dua orang lelaki yang membawa piala warna kuning dengan tertutup kaca setinggi lima puluh centimeter itu adalah Randi dan Ari. Mereka menang, menang dengan membawa juara pertama dan uang sepuluh juta rupiah. Uang yang sangat cukup untuk merehabilitasi sekolah kita, sekolah yang hanya mempunyai sepuluh kelas, dan juara yang cukup untuk mengharumkan sekolah kita dari sekolah lainnya. Kita juara boy! Juara! Juara satu.
Dan akhirnya kamipun berpelukan sambil menangis dan tertawa, juara satu! Juara satu! Itulah yang kami ucapkan sambil berpelukan dan melompat setinggi-tingginya.[
Note;
“Aku hanya berfikir untuk maju, dan menang. Ku ambil resiko terdahsyatku, dan aku bermain-main dengan ketakutanku. Karena menang melawan katakutan dan resiko terbesar itu amboy nikmatnya.” Kuambil kesimpulan ini dan aku menulisnya setelah membaca novel yang dahsyat, dan kutulis ini untukmu sahabat-sahabatku yang terhebat. “Belajarlah dari buku, meski diam tapi bermanfaat”.

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomantar, tapi gunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami ya. ^_^
Untuk yang berkomantar kurang sopan atau mengandung unsur profokasi, admin akan menhapusnya. terimaksih untuk partisipasinya. Selamat berkomentar...