Aku terbawa dalam angan yang tak pasti, selembut sapaan embun saat pagi datang, membawaku dalam kegembiraan semu, kemudian ia bagaikan cengkraman burung elang yang tak tanggung-tanggung merenggut angan-angan tak jelasku ini. Aku masih seperti ini sampai saat itu, bodoh dan lelap dalam kebodohan, saat tatapanku tak mampu kuterjemahkan dalam arti yang sebenarnya maka akupun telah tak lagi mempu menguasai diriku sendiri. Lagi, aku terus bingung dengan karakter tak jelas pada diriku ini, aku benar-benar tak tahu maksud kata hatiku.
Kemarin aku sempat sombong dengan sahabatku, aku merasa tak ada lagi orang yang mampu menyaingiku, dalam bidang apapun, matematika, fisika, kimia, olahraga atau mata pelajaran yang lainnya. Soal popularitas? Jangan ditanya, aku terkenal seantero sekolah. Sombong, tak akan melekat lagi padaku, saking tak sombongnya diriku, aku pasti akan meladeni siapa saja orang yang ingin mengajakku berkenalan denganku via SMS. Anywhere, anytime aku siap membalas pesan singkat mereka. Memang lebay si, mungkin hanya sekedar bertanya “Hay ndra? Apa kabar, lagi apa nih?” yah, bagiku itu sudah menjadi sebuah kutukan yang harus kujalani.
“Perkenalkan namaku Diandranu, teman-temen bisa memanggilku Andra, alamatku di Piyungan, Bantul, Sleman, Yogyakarta. Kalau sekarang si masih tinggal dengan bapak dan ibukku, hobiku olahraga dan membaca. Ada yang ingin ditanyakan?”
Itulah perkenelanku saat pertama kalinya aku medapatkan kelas baruku di SMA 1 Bantul, aku tak pernah grogi atau malu saat berada didepan orang banyak entah mengapa, tapi itulah mungkin kutukan yang harus kujalani, ganteng, nggak miskin, pintar, dan tentunya dikagumi banyak orang.
Setelah kami semua berkenalan sambil memperkenalkan diri satu-persatu didepan kelas kemudian dipilihlah kandidat ketua kelas, dan tak salah lagi aku pasti masuk diantara kandidat-kandidat itu, dan akhirnya aku pasti menjadi ketua kelas. Kutukan yang mulai membiasakanku sejak usiaku SD.
“Visiku adalah menjadikan kelas kita sebagai kelas yang paling aktif dalam pelajaran, kelas yang menjadi sorotan karena merupakan kumpulan siswa para juara, dan misiku membangun karakter tangguh dan siap berjuang pada setiap penghuni kelas agar mampu menjadi siswa yang cerdas dan siap bersaing dalam pelajaran, aku tak hanya sekedar ingin menjadi pemimpin kelas, tapi aku juga ingin menjadi penyemangat teman-teman, jangan pernah melakukan hal yang kuperintahkan jika aku tak melakukannya terlabih dahulu”. Padahal itu kata-kata yang selalu ku ucapkan saat kampanye didepan kelas sejak aku mencalonkan diri sebagai katua kelas saat SD kelas III dahulu, dan herannya mereka semua percaya padaku. Sekali lagi ini adalah kutukan yang mulai membiasakannku.
Aku mendapatkan kelas yang sangat kompak, penuh dengan kerjasama dan kebersamaan, aku mendapatkan kelas yang selalu mejadi juara saat pembagian rapor dari kelas-kelas yang lain kelas kami selalu mendapatkan nilai terbesar, para penghuni kelasku bisa dikatakan para master pelajaran. Dan cerita yang paling berkesan adalah masa-masaku ketika kelas XII IPA1, singkat cerita ini adalah masa dimana aku punya teman-teman yang mampu mengubah duniaku, dunia yang kupikir hanya berisi kutukan terhebatku sepanjang masa sehingga hari-hariku hanya kuisi dengan bersantai-santai karena semua yang kuinginkan pasti kudapatkan ini yang kupelajari bahwa benci menjadi suka, dan suka menjadi benci itulah kekuasaan Allah.
Saat ini aku mesih tetap menjabat sebagai ketua kelas, kembali tugas berat bagiku mempertahankan martabat ketua sampai saat ini.
“Tidak seharusnya begitu pak, saat ini memang kami kelas XII tapi tidak seharusnya kami terus saja dijejali dengan momok ujian. Sesekali kami juga perlu dengan adanya refreshing, kami sudah nurut dengan diadakannya bimbel tiap sore, diwajibkannya membentuk kelompok belajar, bahkan tugas karya tulispun sudah kami kerjakan semua. Tapi ketika kami memohon diadakannya jalan-jalan untuk menyegarkan otak kami sejenak tapi malah pihak sekolah menanggapi dengan sinis seperti ini, yang sedang berjuang itu kami pak, jadi tolong turutilah apa yang menjadi kebutuhan kami.” Bantahanku saat rapat para pengurus kelas dengan kepala sekolah dan waka serta para wali kelas.
“Baiklah, ini akan menjadi pertimbangan kami. Dan mungkin juga jika kegiatan bimbel itu agaknya menggangu para murid maka kami akan mengurangi jam bimbel saat akhir pekan”. Jawaban yang diberikan waka kesiswaan sesaat setelah berdiskusi dengan kepsek,
“Bukan seperti itu maksud kami pak, untuk bimbel kami sudah tidak keberatan. Tapi kami hanya meminta satu hal, berikan kami waktu untuk refreshing sebelum ujian, minimal jalan-jalan kepantai pak agar kami tidak terlalu hanyut dengan ketakutan ujian akhir sekolah”. Jawabku,
“Baiklah, mungkin memang itu yang kalian butuhkan. Kami dari pengurus dan komite sekolah hanya mampu membantu sebaik mungkin. Untuk proposal acara tolong dikumpulkan secepatnya”. Kata-kata kepala sekolah kepada para peserta rapat dan kami semua menyambutnya dengan tepuk tangan meriah,
***
Entah mengapa aku selalu menjadi sorotan siswa-siswa yang lain, laki-laki, perempuan bahkan para gurupun sering sharing soal pelajaran denganku. Banyak diantara mereka menjadikanku idola mereka, memprioritaskan aku disaat apapun, bahkan mereka mau mengalah dalam antrean panjang waktu menunggu giliran pembayaran SPP. Yang tak kalah mengherankanku adalah preman-preman sekolahpun tak pernah menggangguku, bahkan mempersilahkanku saat aku melewati daerah kekuasaannya. Pesona apa yang kumiliki?, aku sendiri heran dibuatnya. Ini adalah kutukan terhebat yang memang benar-benar kumiliki.
Sempurna, aku mendapatkan nilai yang diatas rata-rata saat latihan ujian diadakan. Matematika 89, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia 87, IPA semuanya 90. Aku benar-benar tak terkalahkan, dan aku tak pernah mengharapkan ini sebelumnya. Mereka semua mengira aku dirumah selalu belajar dan belajar tak ada waktu yang kugunakan untuk bermain, mereka semua salah, padahal aku selalu bermain sepak bola setiap sore, bermain playstation setiap saat dirumah. Aku sama seperti kalian semua, senang bermain dan bersantai-santai. Tapi satu hal yang paling kubiasakan dan yang harus menjadi wajib hukumnya bagiku, yaitu ibadah kemasjid, mengaji, dan setelah itu membaca buku minimal 10 halaman setelah sholat dan mengaji. Cukup itu saja yang kulakukan, soal belajar tiap malam aku hanya mengerjakan tugas sambil nonton televisi.
“Ndra, ada yang minta nomor hapemu tuh, anak ipa3. Katanya mau tanya soal pelajaran, trus mau kenalan gitu katanya”. Tanya si Agung, temanku satu kelas
“Yo monggo, kasih aja gung. Bilangin sama dia juga, kapan aja boleh. Hehe.” Jawabku sambil tertawa,
Aku tak pernah bertanya, laki-laki atau perempuankah orang yang ingin berkenalan denganku itu, bagiku tak penting karena yang terpenting bagiku adalah bagaimana kita menjaga tali silaturahim antar teman saja. Itulah mungkin kenapa sampai saat ini aku belum menamakan seorang akhwat yang sering dipanggil sebagai seorang “pacar”,”Sorry bro, aku tak mau menyakiti hati para pengagumku. Haha” itu kata-kata yang pernah ku ucapkan kepada si Agung yang selalu menjadi perantara bagi para wanita yang mau berkenalan denganku. Tapi ini adalah sejarah bagiku, sejarah yang membuatku tertawa miris ketika mengingatnya, aku sudah mulai kandas dibibir pantai yang berkarang tajam.
Berawal dari pesan singkat sederhana yang dikirimkan seorang akhwat padaku, padahal itu sering sekali kuterima dari setiap orang yang ingin berkenalan denganku dan aku tak tahu ini bakal menjadi awal yang baru bagiku.
“Assalam, ndra. Lagi apa nih?? Boleh kenalan gak??” tanyanya dalam SMS,
“Wa’alaikum Salam, lagi duduk-duduk diteras nih. Blh2 aja, ini spa si???” jawabku,
“Ini Anggun, anak ipa3. Agung tadi belum bilang to diskul, padahal dah kupesenin lho tadi. Hemh”. Jawabnya lagi,
“Aduh, Agung tadi cm bilang kalo ada yang minta no hp ku tuh, yadah deh byarin aja. Hehe.” Bantahku,
“Iya ya, kan skrng dah tau juga. Hehe,
Andra lagi apa?” tanyanya
“Lagi SMSan dengan akhwat,…” jawabku singkat, dan agaknya ia berfikir lama karena pesan singkatku lama sekali ia balas dan aku mengirim pesan kembali padanya,
“Hallo???” pesan singkatku lagi,
“Ih kok gitu, sama siapa?”tanyanya,
“Sama Anggun, hehe”. Jawabku,
………………………….
Dan kemudian ia menelfonku sampai larut malam, entah apa yang ada dipikiranku waktu itu. Aku langsung saja meladeninya, biasanya aku hanya berbalas pesan tapi kali ini aku langsung saja mau ditelefon pengagumku, kami mengobrol sampai larut malam, tak terasa sudah pukul 23.00 sejak pukul 19.00 tadi ia mengobrol denganku via handphone. Ia bercerita kepadaku bahwa ia adalah anak pindahan dari Jakarta, ia pindah karena mendengar kabar dari temannya bahwa ada seorang pemuda yang sangat pandai dan baik hati serta ganteng yang sekolah disini, dan itulah yang membuatnya tertarik untuk pindah dari Jakarta. Ternyata pemuda yang dimaksud oleh dia adalah aku sendiri, “Diandranu lah yang membuatku tertarik pindah ke jogja” katanya dalam telefon. Aku semakin terbang dalam pujian, manusia mana yang tak senang dengan pujian, apalagi ini sangat jarang terjadi, ada seorang wanita yang mau pindah sekolah hanya untuk berkenalan denganku. Aku sungguh merasa tersanjung dan merasa lebih.
Aku mulai menikmatinya, malam demi malam kulalui seperti ini, tiap malam ia menelfonku, sekedar bertannya tentang pelajaran atau ingin mengetahui apakah aku sudah makan atau belum, sudah sholat atau belum, sudah mandi atau belum, aku mulai nyaman dengan hal ini. Ia selalu membangunkanku setiap pukul tiga dinihari, mengajakku untuk sholat lail dan sahur untuk shaum setiap senin dan kamis. Aku mulai benar-benar kagum dan nyaman dengan ini semua. Dan hal yang mulai membuatku nyaman ini ternyata ada dampak lain yang ditimbulkan, aku mulai tak tertarik lagi untuk membalas pesan yang masuk ke handphone ku, aku jadi malas membalas pesan singkat mereka meski itu dari Agung yang merupakan sahabat karibku, aku heran kenapa, aku tak ada semangat untuk membalas pesan dari mereka, kecuali pesan yang datang dari Anggun, wanita yang selalu ada dalam malam-malamku, aku mulai tak bersemangat untuk menjadi tak sombong lagi.
Kini aku hanya terfokus pada satu hal, Anggun dan Anggun. Rasanya aku tak butuh lagi orang lain disekitarku, cukup Anggun saja. Orang lain sudah tak ku anggap lagi, kecuali jika Anggun berkata “Ndra kamu harus ini, kamu harus itu, kamu gak boleh gini, dan gitu” aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tak terasa aku bahkan sudah nyaman dengan sapaan “Sayang, honey, bunda, mimi” dan semua perkataan manjaku pada si Anggun. Entah malaikat mana yang dikirimkan Tuhan padaku sehingga membuat hidupku menjadi berbunga-bunga seperti ini tiap harinya.
“Ndra, besok diajak anak-anak ke Telaga Futsal tuh, diajak tanding dengan anak2 ipa4. Giman pak ketua?” pesan singkat dari Agung,
Tapi aku tak menghiraukannya karena saat itu honeyku sedang menelfon,
“Ndra?” Tanya Anggun ditelfon.
“Ya, bun. Ada apa???” jawabku manja,
“Kok jarang maen bareng lagi sama si Agung?”tanyanya,
“Anu bun, si Agung lagi sibuk kayaknya”. Jawabku,
“Masak si, orang kemarin dia bunda lihat lagi maen dengan temen-temen kok”. Bantahnya,
“Ow iya deh, demi bunda aku besok maen bareng lagi dengan Agung” jawabku,
Lalu akhirnya aku membalas pesan dari Agung tadi,
“Oke bro, kita main ahad sore gimana? Bilangin 80% biaya ditanggung yang kalah ya?”. Jawabku,
“Iya Ndra, gampang deh”. Sambung Agung
Aku heran mengapa aku mampu terhipnotis dengan pesona wanita yang sering menggunakan jilbab berwarna merah tua itu, wajahnya manis, cukup untuk membuat klepek-klepek siapa yang melihatnya, senyumnya bak mutiara yang hanya orang beruntung yang dapat melihatnya, mungkin itulah yang membuatku mampu bertekuk lutut padanya. Sebenarnya dia tak ingin diprioritaskan tapi entah mengapa aku ingin selalu memprioritaskan dia, dimanapun, kapanpun. Ia pernah berkata padaku, “Ndra, itu lho temen-temenmu dah pada nunggu. Pergi sana, kamu gak usah disini terus, kasihan temen-temenmu, aku gakpapa kok. Sana gih!”. Tapi tetap saja aku tak akan sanggup ketika jauh-jauh darinya, kemanakah kutukan itu, kutukan yang sebelumnya membuatku nyaman, kini aku semakin jauh dari kutukan itu. Kini aku sombong, acuh, dan tak memperdulikan orang lain lagi. Dimana Andra yang selalu jadi idola, dimana Diandranu yang selalu jadi tempat sharing, dimana ia. Kini yang ada hanya Andra yang egois, Diandranu yang penuh dengan kata-kata “Say”, “Honey”, aku kini tersungkur oleh perasaan ketakutanku akan kehilangan sosok wanita yang telah mengubah haluanku.
Hari demi hari kulalui, aku tetap saja menjadi manusia sombong yang hanya memikirkan kesenangan Anggun, tak perduli orang lain lagi.
“Ndra, katanya kamu banyak berubah lho sama temen-temen” Tanya Anggun saat kami sedang dikantin sekolah,
“Apa iya, menurutmu giman say?” Jawabku sambil bertanya,
“Iya, Andra jadi lupa temen-temen. Andra sombong”. Jawabnya
“Lho kok gitu si, Andra kan selalu ada untuk Anggunku sayang”. Bantahku,
“Bukan itu yang Anggun mau Ndra, Anggun maunya Andra kayak dulu lagi. Aktif, baik, dan peduli sama semua orang.” Kata-kata Anggun padaku
“Baiklah, untuk sayangku apa si yang enggak”. Kataku
“Janji?.” Tanyanya
“Jaaaaaaannnnji”. Jawabku sambil tersenyum.
***
Akhirnya hari liburan sejenak sebelum ujian pun sudah tiba, hari ini kami akan kepantai suing, pantai sundak, pantai kukut dan diakhiri makan-makan dipantai baron. Aku bersemangat meminta pihak sekolah agar mengadakan acara ini karena satu hal dan tidak lain adalah karena permintaan permata hatiku, satu nama yaitu “Anggun”. Aku bersemangat sekali karena bisa pergi bersama Anggun, semangat yang tak mampu untuk dijabarkan.
Kami semua bersenang-senang, tak ada raut sedih, kami semua tertawa riang, senang bahagia, dan tak karuan lagi. Terlebiah aku sendiri, bersebelahan kursi dengan Anggun saat di bus.
“Anggun seneng deh Ndra bisa kepantai bareng dengan Andra”. Kata anggun saat kami baru saja sampai dipantai,
“Andra juga seneng bisa kepantai bareng Anggun, apalagi bisa mbuat Anggun seneng Andra lebih seneng”. Jawabku,
“Ndra?” tanyanya,
“Iya,” jawabku,
“Andra mau janji ya sama Anggun?” tanyanya lagi,
“Iya, apapun”. Jawabku
“Janji pokoknya, Andra harus nurut. Andra gak boleh sombong lagi, Andra gak boleh egois, Andra harus kayak dulu lagi, baik, peduli dengan orang lain, murah senyum, aktif, pokoknya Andrakku yang pertama kali kukenal deh. Janji ya?”. Tanyanya panjang,
“Iya honeyku, Andra jaaanji. Kok tumben si tanya kayak gitu?”. Tanyaku heran,
“Enggak kok say, cuma lagi pengen aja. Hehe ”. Jawabnya sambil tertawa dan akupun tak sadar dengan pertanda itu,
Kami berdua duduk diatas bukit indah yang ada di pantai suing, bercerita dan tertawa riang. Aku merasa haus akan senyum itu, dan entah mengapa senyum itu terasa begitu mahal. Dan kurasakan akan sangat mahal lagi senyum ini suatu saat nanti. Akhirnya rute terakhir kami lalui. Kami singgah sejenak dipantai baron sambil menyantap ikan bakar, lalu kami akhiri liburan ini sekitar pukul 16.00 untuk kembali kerumah masing-masing.
Keesokan harinya kami masuk seperti biasa, aku mulai kembali seperti kehidupanku dahulu, gaul, baik, dan peduli pada setiap orang tentu saja kembali ke kutukanku terdahulu. Ini karena satu nama, yaitu “Aggun”. Waktu bel istirahat berbunyi, ku hampiri sayangku kekelasnya tapi ternyata ia tidak ada. Ini tak pernah terjadi, dan aku mulai gundah.
“Hen, Anggun kemana ya?” tanyaku pada Heni, teman sebangku Anggun.
“Oh, Anggun gak masuk Ndra. Katanya keluar kota”.
Aku hanya berfikir bahwa Anggun mungkin lupa memberiku kabar, tapi mana mungkin. Lalu aku mencoba menelfonnya, tapi lagi-lagi nihil. Nomor hpnya tak bisa dihubungi, lalu aku berniat mendatangi rumahnya sepulang sekolah. Dan inilah yang membuatku tambah mati ketakutan lagi, didepan rumahnya tertulis. “Rumah Dijual. Hub 0274-87887878”. “Anggun pergi meninggalkanku tanpa pamit!”, aku mulai tak karuan. Kucoba berkali-kali menelfon Anggun tapi nomorrrya selalu tak aktif. “Ah mungkin hanya bebebrapa hari” pikirku dalam hati.
Hari demi hari kulalui tanpa Anggun, malam-malamku sepi tanpa suara Anggun. Aku jadi ingat kata-kata terakhirnya padaku waktu dipantai ternyata ini maksud dari perkataannya, dan terakhir ku ketahui dari tetangga rumah Anggun ternyata ayahnya pindah kerja ke India dan membuatnya pindah rumah. Aku semakin merinding rindu, “Ya Tuhan, musnahkanlah Anggun dari fikiranku! Aku tak mau jadi seperti ini, ya Allah bantulah aku”. Aku benar-benar tak mampu menahan rasa rinduku, aku benar-benar rindu. Namun entah apa yang terjadi perasaan itu kini berubah, berubah menjadi benci yang sangat mendalam. Aku kini benar-benar ingin melupakan Anggun dan membuatnya tak pernah ada dari hidupku, kemana sapaan “Sayang, Bunda” itu. Aku tak butuh lagi.” AKU BENCI ANGGUN”
*Nb Catatan Pertama Diandranu (Benci bisa jadi Suka & Suka bisa jadi Benci)

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomantar, tapi gunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami ya. ^_^
Untuk yang berkomantar kurang sopan atau mengandung unsur profokasi, admin akan menhapusnya. terimaksih untuk partisipasinya. Selamat berkomentar...