Tentang Bapak Motivator Perkenalanku dengan Nasyid
Pagi itu ada sebuah acara yang sangat sakral bagi kami, pagi dimana akan ada penyambutan bulan yang sangat diidamkan manusia, bulan ramadhan. Pagi itu akan diadakannya sebuah acara songsong ramadhan, acara yang pasti diagendakan rutin satu kali dalam setahun ini berisikan tausiyah dan beberapa penampilan dari eskul-eskul yang ada di SMANSA. Aku bersama teman-teman X3, serta teman-teman yang lain duduk di posisi tengah. Posisi pas bagi kami karena dapat melihat dengan sempurna semua orang yang ada di bawah naungan tenda besar yang dipasangkan di lapangan basket sekolah kami.
“Sepatu-sepatu, sebungkus cuma sepuluh ribu saja. Hahaha”. Ejekanku pada teman-teman karena waktu itu kami diberikan kantong plastik warna hitam yang menjadi wadah sepatu,
“Wah gak bisa kurang mas, di toko sebelah cuma lima ribu tiga. Haha”. Jawab sahabatku fahmi,
“Wah mas ini gimana, toko sebelah cuma jual sebelah mas. Lha itu lima ribu tiga, gek kanan semua lagi. Lha kalo mas mau beli lima ribu tiga ya bisa mas, tapi campur culek mas. Hahaha” bantahku sambil tertawa,
Dan kami yeng berada di barisan tengah ternyata sangat heboh dan ribut sekali saat acara sedang berlangsung. Aku, Fahmi, dan Chofi selalu membuat kegaduhan serta menjadikan bahan ejekan setiap apa yang sedang terjadi dipanggung. “Ehhor” sesekali keluar dari mulutku dan Chofi, “Ehwor” balas Fahmi, dan untuk ejekan Chofi adalah “Ehkholet” dan kalimat-kalimat itu yang paling sering terdengar ketimbang apa yang disampaikan dipanggung. Kami benar-benar urakan waktu itu, kumpulan orang yang senang membuat kegaduhan. Padahal kami terhitung murid baru di sini, tapi kami memang benar-benar tak punya rasa malu.
Sudah sekitar pukul 09.15 terhitung waktu berjalan, tetapi acara inti belum juga dimulai. Yaitu tausiyah yang akan disampaikan oleh ustadz yang diundang dari Tanjung Karang (sebuah kota yeng berada di pusat kota Bandar Lampung). Ternyata Al-Ustadz agaknya terlambat karena suatu hal, dan ini tidak pernah diduga oleh panitia sebelumnya. Kami semua sudah mulai kepanasan dengan tenda yang seadanya itu. Mulut-mulut para peserta sudah mulai berceloteh tak sabar, dan panitia sudah mulai habis akal untuk mengatasinya. Tapi tentu saaja tidak berlaku bagi kami, trio heboh, trio yang selalu ada akal untuh mengubah dan mencairkan suasana.
“Maju wae kwe mi” (maju saja kamu mi), kataku pada fahmi
“Iyo, maju wae. Cemen!” (iya maju saja. Cemen!), tambah Chofi,
“Oke, mange aku wedi opo. Maju iki aku.” (oke, emangnya aku takut apa. Maju aku) jawab Fahmi, dan ia meladeni tantangan kami dengan langsung berdiri dan dengan santai dan bergaya intelektual ia berkata,
“Maju!” sambil ia melangkah satu langkah kedepan,
“Wes to. Hahaha” (sudah to), kata fahmi
Dan begitulah kami, selalu ada yang dapat kami jadikan sebagai bahan bercanda. Dan anehnya, kami tak pernah bosan dengan itu.
Lalu pembawa acara mulai berbicara tentang acara yang molor ini, “Baiklah, karena keterlambatan pemateri kita kali ini. Marilah kita sambut penampilan dari eskul ROHIS, yaitu tim nasyid Together Voice!!! Berikan sambutan yang meriah untuk Together Voice”. Itulah kali pertamanya aku tahu yang namanya Nasyid, dakwah dalam syair dan nyanyian. Lagu pertama yang ku ketahui adalah lagu dari GSM yang berjudul “Bersatu”, tapi waktu itu aku belum dan bahkan tidak sama sekali tertarik dengan nasyid, musik dengan instrument mulut yang menurutku malah lucu untuk dilihat. “Tum tum tum, parap parap, tum, cekeces” aku hanya tertawa ketika melihat penampilan dari kakak-kakak kelas itu. Dan tentu saja, trio heboh tak akan tinggal diam dengan hal ini. Kami malahan membuat grup nasyid dadakan di barisan tengah, kami tirukan apa yang sedang dicontohkan didepan. Tapi, tentu saja lagunya telah kami aransmen sendiri dengan lirik buatan kami, lirik yang aneh dan tentunya lirik yang gunanya untuk mengejek nama orang tua. Beginilah lirik yang kami buat sendiri,
“Let let let,
Hor hor hor hor,
Wor wor wor wor,
Beduk masjid, (let kolet)
Dompet asli, (let kolet)
Guru MTK, (let kolet)
Waka kesiswaan, (let kolet)
Wor wor wor wor
Hor hor hor hor,”
“Let/ kolet” adalah ejekan untuk nama orangtua Chofi, “Hor” adalah nama ejekan untuk orangtua Fahmi, dan “Wor” sendiri adalah ejekan untuk nama orangtuaku.
Aneh memang, kami menertawai ejekan untuk orangtua kami sendiri. Dan kami tak pernah marah dengan hal itu, karena yang kami pikirkan waktu itu adalah bercanda dan bercanda. Tidak ada yang lain. Lalu sepanjang Together Voice sedang tampil di panggung kami pun sedang aktif bernyanyi-nyanyi di barisan tengah. Akhirnya satu aliran musik lagi kuketahui, Nasyid, unik namun dapat berdampak besar nantinya bagiku di SMANSA. Kemudian setelah penampilan nasyid, ternyata pemateri tetap saja belum menunjukkan kehadirannya. Lalu salah satu guru senior SMANSA Tuja berinisiatif menggantikan sementara bermaksud mengisi kekosongan seraya menunggu pemateri, namanya Bapak Amin Najib tepatnya kini Alm. Bapak Amin Najib S.Pd, bapak motifator bagiku. Bapak kebanggaan kita semua.
“Assalamu’alaikum. Apa kabar semuanya,
…..
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah yang maha kuasa karena berkat rahmat hidayat …..” dan wajah beliau begitu bening waktu itu. Entah kenapa, atau mungkin karena ini adalah wajah terakhir beliau yang dapat kami saksikan sebelum ajal menjemputnya.
“Hay orang-orang beriman,…” seru beliau saat berada di panggung, dan kami semua menjawab
“Haaaaaayyyy, hahahahaha” jawab kami semua dengan tertawa, lalu beliau menjawab
“Hey bukan seperti itu, maksudnya orang-orang yang beriman itu seruan dalam Al-Qur’an untuk orang-orang yang beriman. Bukan seperti ini,..” kata-kata Alm. Pak Amin yang begitu santun dan lembut,
***
Hari itu benar-benar akan menjadi hari yang bersejarah bagiku, hari dimana aku berhasil diterima di SMANSA. Saat pendaftaran aku sempat bercengkrama dengan Alm. Pak Amin,
“Dan, nggak sekalian daftar di SMANDA lho. Untuk jaga-jaga aja?” tanya Alm. Pak Amin padaku,
“Waduh, makasih pak. Aku optimis di sini saja” jawabku sambil tersenyum malu,
“Cuma dua puluh ribu aja kok, daripada ke SMANDA nantinya. Disini aja bisa”. Katanya lagi,
“Makasih pak, insyaallah disini aja”. Jawabku sekali lagi.
Lalu kami berjabat tangan dan akupun pamit untuk pulang kerumah, dan akupun tak tahu bahwa ini adalah saat yang akan kukenang sampai kapanpun.
Kemudian pengumuman siswa-siswi yang diterimapun diumumkan, dan akupun akhirnya diterima di SMANSA Tuja, lalu karena masih ada registrasi dan surat-surat yang harus kuselesaikan di SMPku dulu. Akhirnya aku dan teman-teman sempat beberapa hari datang ke SMP untuk mengurusi masalah itu. Dan kembali, sewaktu aku dan teman-teman sedang mengurusi kekurangan kelengkapan ijazah SMP, aku bertemu dengan Alm. Pak Amin yang ternyata beliau sedang melihat hasil pengumuman tes masuk SMP untuk memastikan anaknya masuk di SMP N 1 Tumijajar atau tidak lalu ku hampiri beliau dan kami berjabat tangan,
“Assalamu’alaikum pak?,” sapaku pada Alm. Pak Amin
“Wa’alaikum salam. Nu, bagaimana hasilnya kemarin?” tanyanya
“Alhamdulillah pak, aku diterima. Sedang apa pak disini?” jawabku sambil bertanya,
“Alhamdulillah, ini bapak sedang lihat hasil pengumuman. Anak bapak juga Alhamdulillah diterima. Kamu sendiri ada perlu apa dan?” tanyanya kembali,
“Ini pak, mau legalisir ijazah. Yasudah pak, mari! Assalamu’alaikum.” Jawabku,
“Oiya, mari. Wa’alaikum Salam” sambut Alm. Pak Amin
Dan kami pun berjabat tangan, aku tak pernah menyangka sebelumnya ini bakalan menjadi jabatan tangan terakhir dari Alm. Pak Amin, aku sangat sedih ketika mengingat-ingat kejahilanku kepada beliau. Beliau begitu sabar dalam memberiku ilmu, dan aku hanya bermain main ketika ia sedang mengajar. Aku pernah ingat ketika beliau bartanya padaku saat aku masih menjadi muridnya di TPA Al-Azhar Dayaasri, “Apa bahasa inggrisnya pagi-pagi?”, aku menjawab dengan keras “Morning-morning pak! Hahaha”. Aku benar-benar menyesal pak waktu itu, aku benar-benar menyesal. Tapi kini tak ada artinya, bapak telah tiada, dan penyesalanku semoga termaafkan. Aku selalu teringat dengan sosok motivator ini, sosok yang sederhana dan meninggal dengan begitu membanggakan karena telah membawa dan membangun karakter hebat pada siswa-siswa didikannnya. Aku bangga pernah menjadi muridmu pak, dan aku akan selalu bangga akan hal itu. Alm. Pak Amin Najib telah banyak mengajarkanku akan pentingnya arti belajar dan memahami pelajaran, sosok sederhana yang kaya, tapi semua itu hanya ada pada dirinya.
Aku sempat berjumpa dalam mimpi dengan Alm. Pak Amin sehari setelah wafatnya beliau, Alm. Pak Amin bekunjung kerumahku dan mengajakku bercerita tentang sekolah kita. Aku heran, aku bahkan sadar, tadi pagi aku menghadiri proses pemakamanmu pak, lalu kenapa sekarang anda ada disini, tapi dalam mimpi itu aku tak mampu berkata demikian. Aneh memang, tapi mungkin inilah wujud khayalanku tentang Alm. Pak Amin Najib, Guru Bahasa Inggris yang hebat.
Tak ada yang mampu menduga kapan datangnya ajal, itulah yang terjadi. Alm. Pak Amin pagi harinya memberikan tausiyah pada kita semua dan sore hari ia dipanggil oleh Allah. Namun satu hal yang pasti, Allah sangat sayang dengan Alm. Pak Amin Najib serta Istri dan Anaknya karena itu Allah mempersingkat umur beliau agar dosa yang ada di dunia selama hidup beliau tidak bertambah lagi. Semoga Alm. Pak Amin Najib serta Istri dan Anaknya dapat menghuni Syurga bersama kita semua kelak.
***
Akhirnya pemateri yang ditunngu-tunggu kehadirannya telah tiba. Tanpa berbasa-basi ia lalu naik kepanggung dan menggantikan Alm. Pak Amin, ia bercerita bahwa keterlambatannya dikarenakan ada sahabatnya yang meninggal dunia yang membuatnya datang terlambat. Seperti di awal tadi, kami yang berada di barisan tengah tampak begitu meriah. Berisik, dan energik. Tak penting apa yang ada di depan, yang penting bagi kami adalah happy dan tertawa, rasanya niat kami datang menghadiri acara ini memang untuk itu.
“Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan, barang siapa yang menggunakan bulan ramadhan dengan sebaik-baik mungkin. Niscaya ia akan menjadi manusia yang paling beruntung, dan mempersiapkan diri sebelum ramadhan adalah cara yang paling tepat. Songsong ramadhan, tema yang sangat tepat. Jika kita sudah meniatkan untuk berbuat baik, maka insyaallah pahala perbuatan baik kita sudah ditangan, lalu saat ini kita sudah berniat untuk memanfaatkan puasa dengan sebaik-baik mungkin. Maka insyaallah pahala puasa sudah ditangan kita. ……” itulah potongan tausiyah yang disampaikan oleh Al-Ustadz yang masih ku ingat.
“Tanpa terasa acara songsong ramadhan ini telah mencapai puncaknya, dan untuk acara terakhir adalah sesi tanya jawab dan akan ditutup dengan persembahan nasyid” kata pembawa acara saat pemateri sedang duduk untuk istirahat sejenak,
“Wuwuwuwuhu, Nasyid nasyid” teriakku bersama trio heboh
Lalu sesi tanya jawab berlangsung, dan trio heboh malah aktif dengan urusan measing-masing. Karena yang kami tunggu adalah penampilan dari Together Voice yang menjadi idola kami untuk sesaat pada waktu itu. Dan akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba,
“Akhirnya, mari kita sambut. Together Voice!!!”
Tobe continued
*Nb Ini adalah kali pertamaku melihat Nasyid, musik yang lucu dan unik. Tapi ini adalah awal mula membuminya nasyid di SMAN 1 Tumijajar, bermula dari sini aku mendapatkan pesan singkat yang mengajakku bergabung menjadi anggota tim nasyid ”DACTA”.
Terimakasih kepada: Bapak motivator (Alm. Pak Amin Najib)
Trio Heboh (Danu, Fahmi, Chofi)
Aku Bangga Jadi Siswa SMAN 1 Tumijajar (Eps.3)
Posted by Danu Widjaya on Minggu, Februari 27, 2011. catatanku - No comments
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomantar, tapi gunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami ya. ^_^
Untuk yang berkomantar kurang sopan atau mengandung unsur profokasi, admin akan menhapusnya. terimaksih untuk partisipasinya. Selamat berkomentar...