thanks for coming, please help me to click my ad ^_*

Join The Community

Aku Bangga Jadi Siswa SMAN 1 Tumijajar (eps.2)


Perkenalkan, nama kakak bla bla bla, dari sekbid bla bla bla, tempat tanggal lahir, alamat, hobi, cita-cita, yang paling disukai, yang paling dibenci, dan sebagainya adalah kata-kata yang paling sering aku dengar sewaktu MOS. Bayangkan, puluhan orang-orang itu harus kuhapalkan nama-namanya dalam waktu yang singkat. Mereka berkuasa pada kami waktu itu, mata mereka melotot bagai sorot lampu tajam yang tak kuat kita melihatnya, mulutnya bagaikan jam alarm yang terus-menerus berbunyi hingga kuping ini terasa sakit, apapun yang mereka katakan seperti sebuah perintah yang maha dasyat yang sulit untuk dapat dilanggar. Maklumlah, kami siswa-siswa baru yang tak punya keberanian lebih waktu itu. Julukanku Sun gokong, sabuah nama yang cukup bagus dibandingkan temanku yang mendapat julukan cemple, kutil, seblok dan nama-nama yang menggelitik lainnya. Karton besar bertali mengalung layaknya tahanan penjara bertuliskan identitas diri menghiasi atribut kami, dengan topi kerucut menjulang tinggi bertali berhias cempuka dan bawang dengan aroma khasnya bergelantungan disamping kanan-kiri topi kebanggaan buatan kami, kalung dengan embel-embel komplit berupa pisang (harus matang/berwarna kuning) terletak ditengah, permen (gak boleh murahan), stik coklat, dan tutup teh botol menjadi pelengkap atribut kalung kami, dan tak ketinggalan kami diwajibkan memakai kaus kaki selang-seling hitam putih dengan sepatu hitam. Jengkelnya, setiap pagi kami dipajang di tengah lapangan basket bak artis, diperiksa satu-persatu untuk melihat kelengkapan atribut. Sebuah tes mental gratis karena ratusan kakak-kakak kelas berkumpul memutari lapangan basket, banyak diantara mereka yang sudah akrab denganku menambah tebalnya rasa maluku, kakak-kakak primadona bahkan membentuk perkumpulan tersendiri berbaris berjejer memandangi kami penuh ejekan namun heran tetap saja kami ikhlas dibuatnya, para preman sekolah juga tak ketinggalan mereka dengan pakaian compang-camping memelototi kami agar kami tahu bahwa mereka penguasa disini, kakak-kakak centil juga melihati penuh dengan godaan terutama pada siswa yang lumayan tajir, tapi ada juga raut wajah kasihan ketika memandangi kami. Aku jengkel sekali ketika coklatku diambil oleh kakak osis, hampir tiap hari dalam tiga hari pertama aku harus membeli coklat untuk mengganti coklat yang diambil oleh senior kami. Akhirnya atas dasar emosiku itu, saat jam istirahat aku makan sendiri coklatku dan mengatakan sudah diambil oleh kakak osis tadi jika aku ditanya kemana coklatku. Licik memang, tapi licik untuk kebaikkanku sendiri (ha ha ha, tawaku dalam hati).
Di kelas MOSku, rata-rata teman yang ada berasal dari SMP yang sama dahulu jadi tak canggung-canggung lagi aku bercengkara di kelas. Posisiku sebagai wakil ketua sementara waktu itu, kakak pendamping dan kawan-kawan yang memilihnya. Yel-yel, mars SMA, dan janji pelajar menambah PR hafalan kami dirumah.

***

Ada sebuah kisah lucu waktu itu, seorang siswa baru dari daerah nan jauh juga ternyata belajar di sekolah ini. Aku ingat kata-kata pertamaku padanya,
“Jenengmu sopo?” tanyaku (“siapa namamu” dalam bahasa jawa, karena wajahnya seperti orang jawa)
tapi ia hanya berkata,
“Ha? Ha?” (seperti orang linglung)
ku ulangi lagi pertanyaanku,
“Jenengmu sopo?”
“Dari Tabanan, Bali!”
seketika itu aku tertawa terbahak-bahak dalam hati, wajahku kupalingkan dari wajahnya dan aku berfikir “jadi dari tadi dia tak tahu apa yang aku tanyakan?”. Menggelitik rasanya hatiku mengingat pertanyaanku tadi, seharian aku terpingkal-pingkal dibuatnya. Wajahnya yang lugu itu menambah lagi bumbu-bumbu kelucuan, dengan tak malu-malu kemudian ia mulai bercerita banyak sekali tentang bali, peristiwa bom balipun tak luput dari daftar cerita-ceritanya. Para turis yang datang berkunjung ketempatnya juga ia ceritakan, “ternyata turispun ada yang pelit” katanya. Lucu memang anak itu, dialognya sangat medok khas cara berbicara orang bali. Semua kata yang keluar dari mulutnya pasti membuat perut kami tergelitik. Tak penah sebelumnya ku bayangkan akan mendapat sahabat sepertinya.
Namun dibalik pengalaman lucu itu, ada segelintir kisah sedih yang dialami sahabatku. Pengorbanan seorang sahabat untuk dapat sekolah memang benar-benar sebuah pengorbanan besar, kakinya harus mengayuh sepeda dalam jarak puluhan kilometer dengan jalan yang berlubang-lubang, sepulang sekolah ia harus mencari makan binatang-binatang ternak milik tetangganya yang dititipkan padanya, ingat! Bukan binatang ternak miliknya, tapi milik tetangganya. Mungkin aku saja jika diwariskan seekor kelincipun aku tak sanggup untuk mencarikan makan, tapi sahabatku harus mencarikan makan puluhan binatang ternak milik tetangganya dan ia dibayar untuk itu. Wajahnya memang hitam, tapi dibalik wajahnya itu senyumnya dapat meneduhkan hati. Ibunya pernah bercerita kepadaku sewaktu aku berkunjung kerumahnya, “aduh dik, sebetulnya ibu itu bingung bagaimana membiayai biaya sekolah anak ibu ini”. Aku ingin sekali menangis, tapi wibawaku tak boleh goyah di hadapan sang ibu penyayang ini dan aku berjanji untuk membantunya dengan sepenuh hati suatu saat nanti. Aku lupakan sejenak masalah ini, dan ku coba menikmatinya sebelum masa MOS ini berakhir. Namun masa-masa MOS hanya enam hari dan dilanjutkan satu hari dengan haking mengelilingi desaku dan desa sekitarnya yang subhanallah luar biasa indahnya, hamparan sawah, pohon-pohon yang berbaris rapi, kumpulan burung-burung yang bergerombol, bahkan mampu menghilangkan rasa letihku di perjalanan.
Sungguh penutupan masa orientasi yang sangat berkesan bagi ku, karena sempat ada drama dari kakak-kakak osis sebelum haking berakhir. Mereka semua menangis seolah-olah kami semua bersalah, ada yang berkelahi, ada juga yang pingsan, tapi itu semua adalah drama terhebat yang pernah kulihat. Waktu itu tak ada lagi wajah-wajah kejam yang nampak, mereka semua sudah berubah 180 derajat, jadi sopan terhadap kami. Dan ku akhiri masa orientasi itu dengan senyum. Akhirnya, statusku sebagai siswa SMA NEGERI 1 Tumijajarpun secara resmi diakui.
Hari pembagian kelas telah tiba, nama-nama penghuni kelas telah terpampang di kaca jendela kelas masing-masing, dan akupun terpisah-pisah dengan sahabat-sahabatku sewaktu MOS. Tapi mungkin Allah ingin mempertemukan aku dengan sahabat terhebatku tadi, sahabat yang sangat kuat, sahabat yang semangat dalam belajar namun tak seberuntung teman-teman kaya ku yang lain. Ia sekelas denganku, aku juga memang bukan anak seseorang yang kaya, bahkan rumahkupun waktu itu masih geribik yang jika hujan datang dengan kejam maka airnya masuk mengganggu tidur nyenyakku, aku ingat sewaktu aku sakit, dinginnya malam terasa sekali menusuk melalui celah lubang kecil-kecil rumah geribikku. Aku umumkan bahwa aku hanya anak seorang penjual gorengan yang berjualan setiap malam hari di pasar, sebuah pertanyaan. Malu? Pernah kurasakan, tapi aku tanamkan dalam hatiku “Kenapa aku harus malu dengan pekerjaan orang tuaku sedangkan aku bangga dan tak punya malu ketika menggunakan uang hasil jeri-payahnya, seharusnya aku malu jika mengingkari itu semua”. Dengan selogan itu setidaknya, karyawan yang pernah bekerja dengan bapakku telah menjadi orang-orang sukses dan hebat meskipun pekerjanya adalah saudaraku sendiri, bukan hanya dia tapi mereka, karena tak hanya satu karyawan yang pernah membantu bapakku, mereka bahkan telah mampu bergelarkan “sarjana” dengan hasil usaha gorengan bapakku. Kini aku yang menjadi pengganti karyawan itu, dan harapankupun aku ingin menjadi seperti mereka juga nanti. Kupikir-pikir lagi ternyata aku ini masih lebih dibanding sahabatku tadi, anak buruh petani yang malang. Aku ingin membantunya, tapi aku tak tau bagaimana, seluruh uang yang kupunya pun tak ada artinya jika kuberikan semua padanya. Beruntunglah waktu itu aku menjabat sebai ketua kelas yang sedikit mempunyai wewenang melapor dan memilih daftar nama-nama siswa yang berhak mendapatkan BKKM (Bantuan Khusus Keluarga Miskin), gelar yang menyedihkan memang “miskin” tapi itulah yang bisa ku usahakan untukmu teman saat ini. Daftar nama-nama itu kusetor pada waka kesiswaan waktu itu, dan tak lupa namaku pun tercantum dalam salah satu penerima bantuan.mekipun hanya tiga bulan dalam satu semester, tapi kupikir pasti membantu keuangan sahabatku tadi. Waktu atu aku belum akrab dengannya, namun kami terkumpul dalam kelas yang sangat luar biasa bringas. Bukan bringas karena persaingan belajar, tapi bringas karena seisi kelas adalah perkumpulan anak-anak badung, nakal, anak-anak yang penuh sensasi. Lengkap sudah kelas ku, kelas X.3, kelas yang komplit, ada sosok pendiam, sosok pemarah, jail, tukang bercanda (aku turut serta didalamnya), rajin belajar, periang, kalem, konyol (sahabat baliku tadi), narcis, dan masih banyak sosok nyentrik lainnya.

***

Hari-hari di kelas tak pernah sepi, ribut minta ampun. Maklumlah anak dengan kemalasan belajar yang tinggi tengah berkumpul, barisan belakang yang mayoritas laki-laki pasti bersuara saat guru tengah berkata-kata di depan, entah apa yang mereka pikirkan yang penting berbicara saat guru berbcara. Ketika ada pelajaran dengan guru yang tak kami sukai, pasti ada salah satu korban dari teman kami yang harus dijadikan bahan ejekan, nama orang tua sangat tenar waktu itu, suara ejekan nama-nama orang tua saling bersaut-sautan waktu pelajaran sedang berlangsung. Sang guru yang jenkel akhirnya hanya diam dan pergi. Suatu ketika, ada sahabat kami yang tengah bertugas mengambil jurnal kesetiap kelas sesaat sebelum bel pulang berbunyi, setiap bertugas ada dua orang waktu itu. Kebetulan waktu itu yang bertugas dari kelas tetangga sebelah, karena sedang ada sedikit konflik dengan kelas yang bersangkutan dan jam terakhir ternyata jam kosong di kelas kami, dengan sepakat kami berencana mengurung petugas pengambil jurnal saat memasuki kelas kami. Sialnya, waktu itu yang tertangkap hanya satu dan teman kerjanya berada diluar kelas tepat didepan pintu. Aku dan kawan-kawan kelas ku tak sadar bahwa ada guru yang sangar sedang mengajar dikelas tetangga sebelah, dengan hati yang ketakutan, rekan pengambil jurnal yang berada di depan pintu tadi dengan keras memukuli pintu dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
Dor... dor... dor..., berkali-kali ia lakukan namun seisi kelas malah asyik tertawa. Tanpa sadar, suara-suara berisik kami memanggil guru sangar itu keluar dari kelasnya dan menyatroni kelas kami. Akhirnya dengan terpaksa kami melepaskan sandra, dan guru itu mengira kami sedang bermain musik dengan pintu sebagai gendangnya,
“ Diam semua, kalian seperti bukan pelajar!, perusak sekolah!, lama-lama bukan hanya pintu yang rusak! Meja, kursi, papan tulis, jendela, pasti akan kalian preteli juga! Dasar urakan!” ucapan guru sangar itu, dan sekejap setelah berpidato ia pergi.
Lalu ada sahabatku yang berdiri dan dengan spontan ia mengangkat kursi dan berkata serta bermimik wajah sama seperti yang dilakukan guru sangar itu tadi. Seketika seisi kelas kembali bergemuruh, semua siswa mengangkat kursi keatas sambil berkata-kata tak jelas, namun tidak dengan aku, aku justru malah hanya tertawa memandangi mereka. Entah mengapa, ketika itu pikiranku aneh memang dan ketika mereka semua berhenti mengangkat kursi tapi aku malah dengan bangga mengangkat kursi yang ku duduki sendiri. Semua teman-temanku telah duduk rapi dengan tangan diatas meja dan wajah berseri-seri berhias senyum yang menawan, mereka semua memandangiku, semua terdiam memandangiku, aku heran kenapa mereka begini. Apa ada yang salah denganku? Ada apa ini? Memang waktu itu aku tak melihat kedepan, aku mengangkat kursi sambil menoleh kebelakang, dan saat ku paksakan menoleh kearah pintu. Ternyata sang guru yang sangar tadi sudah berada didepan pintu kelas, ia memandangiku dengan mata yang sangar dan penuh dendam, coba bayangkan, “aku sendirian mengangkat kursi ditengah kelas”, pantas saja semua penghuni kelas tiba-tiba menjadi diam ketika aku mengangkat kursi, kukira guru tadi sudah pergi tapi ternyata ia kembali lagi. Seketika itu wajahku berubah seperti wajah anak bayi yang diomeli ibunya ketika ketahuan mencuri, wajahku berubah merah pucat (pikirku, hebat sekali aku bisa berani seperti ini, menantang guru dengan mengangkat kursi tinggi-tinggi) dan dengan perlahan aku menurunkan kursi yang kuangkat, nyaris tak bersuara sama sekali. Sumpah mati ini pertama kali aku mati ketakutan, bayangkan hanya aku sendiri yang berdiri dengan mengacung-acungkan kursi,
“Dor... Dor... (Suara pukulan guru itu pada pintu), siapa ini dalangnya?
Ha? Siapa ini dalangnya? Danu? Kamu bukan dalang dari semua ini?” amarah guru itu, dan suasana kelas nampak begitu sunyi (aku semakin mati ketakutan). Namun tak ada satu orangpun yang berani berkata-kata, semua diam meski tahu siapa pencetus ide mengangkat kursi. Lalu guru itu dengan wajah yang menakutkan pergi meninaggalkan kelas kami, kemudian aku berfikir kenapa aku yang jadi korban dari semua ini? Sungguh sial bagiku, kemudian seisi kelas tertawa mengejekiku “siapa dalangnya? Ha ha ha” kalimat itu berulang kali mengejeki ku, malu sekali aku waktu itu. Wajahku kambali berwarna merah pucat, sungguh hari yang na’as bagiku aku ingin tertawa sendiri malahan ketika mengingatnya. Namun entah kenapa ada sesosok sahabat wanita yang menghampiriku dan berkasihani padaku, “sabar ya dan” katanya (sungguh bak bidadari penyejukku waktu itu, dikala semua tertawa terbahak-bahak tapi ia malah prihatin denganku).
Itu hanya secuplik kisah lucu di kelas X ku, ada juga cerita dimana penjudi-penjudi kelas teri sedang beraksi di kelas. Para penjudi itu bahkan membuat sendiri kartu gaple mereka dengan sampul buku yang dicuri dari perpustakaan. Dipotong-potonglah sampul buku itu sesuai ukuran yang diperlukan dan dengan santainya mereka mengembalikan isi buku yang tak bersampul tadi, yang labih extremnya lagi, saat jam pelajaran yang gurunya membosankan mereka malah asik bermain gaple dimeja barisan belakang “yang kalah gantian” itulah peraturannya. Ada juga sebuah meja yang dimodifikasi menyerupai dengan meja biliard. Meja belajar menjadi meja biliard, dengan penghalang penggaris dan enam lubang yang kami buat secara manual menggunakan alat seadanya, maka jadilah meja khusus biliard mini. Dengan stik pena dan bolanya menggunakan manik-manik berukuran kacil setiap jam kosong atau jam istirahat adalah moment yang tepat untuk berkompetisi. Layaknya pemain profesional kami memainkannya, sungguh kreatif yang sedikit merusak memang. Ada juga permainan tebak ABC nama-nama (hewan, tumbuh-tumbuhan, pemain bola, tim sepak bola, dan lain-lain) “yang kalah dipukul lima kali” itulah peraturannya. Sederhana memang, yang menjawab terakhir adalah yang kalah dan harus siap dipukuli. Sungguh pekerjaan siswa-siswa nakal yang kreatif namun sedikit merusak, semua terbungkus rapi dalam wadah perkumpulan anak-anak berbakat dalam bidangnya terkumpul dalam kelas yang sangat urakan, kelas yang sangat bising waktu pelajaran, kelas yang paling dibenci guru, kelas X.3. mereka semua adalah kumpulan orang-orang berbakat, namun belum saatnya mereka memperlihatkan taring mereka. Tunggulah suatu saat nanti, aku dan sahabat-sahabatku ini adalah orang-orang yang akan membanggakan semua orang yang kami cintai karena Allah dengan prestasi kami. Ingatlah itu!


To be continued

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomantar, tapi gunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami ya. ^_^
Untuk yang berkomantar kurang sopan atau mengandung unsur profokasi, admin akan menhapusnya. terimaksih untuk partisipasinya. Selamat berkomentar...

Terimaksih telah berkunjung. Semoga Dapat bermanfaat. Untuk Sobat yang Mau Komentar Tambahkan Komentarmu di ChatBox yang Ada Bagian Dikanan Blog ini^_^

Iklan Sponsor