Aku adalah pelajar pecinta ilmu mesin, elektronik, computer dan ilmu-ilmu teknik yang lainnya. Tapi aku sedikit terpaksa terjerumus masuk kedalam bangku SMA NEGERI 1 Tumijajar yang sebenarnya bukan kehendakku 100%, meliankan 3/2 bagian dari presentasi itu berasal dari orang tuaku. Awalnya aku begitu mengeluh, aku ingat beberapa orang temanku sampai ikut bimbel untuk dapat masuk kesekolah favorit ini. Sementara aku? Mendaftarpun dengan setengah hati. Tapi aku punya Allah, aku bertanya pada-Nya dan ia menjawab bahwa sekolah inilah jawaban dari pertanyaanku.
Pagi itu, entah tepatnya tanggal berapa. Aku ingat sekali, teman-teman berbondong-bondong mendaftar di SMA kita. Pagi-pagi sekali mereka datang (sungguh semangat yang luar biasa), mereka membeli formulir pendaftaran dan mengantre dengan ratusan pendaftar lainnya. Dihari pertama, ratusan orang bejubel antre. Tapi aku dan kawan-kawanku memutuskan memilih hari berikutnya untuk mendaftar, dan benar pilihan kami. Hari berikutnya sudah senggang, tidak seperti hari pertama pendaftaran. Ada sekitar 25 anak temanku yang berasal dari SMP yang sama, kita berencana mengumpul formulir pendaftaran bersama-sama berharap mendapatkan nomor test masuk yang urut dengan beberapa pentolan teman kami yang pandai sebagai narasumber. Tapi, salah satu sahabatku berkata, “Satu ruangan hanya ada 20 orang, jadi yang 5 orang misah!”.
(seketika itu aku berfirasat buruk), dan benar. Aku dan 4 orang temanku (yang pastinya gak pandai juga termasuk aku) berpisah ruangan dengan perkumpulan orang-orang pandai, lengkap sudah kataku sudah gak niat malah teman-teman seruangan mendukung. Zaman itu masih zadul (zaman dulu), gak punya HP. Jadi fikirku, 100% pasrah dan mengerjakan sendiri tak mungkin aku bertanya pada teman yang lebih enggak dong dari aku.
***
Dan hari penentuan itu tiba, sumpah mati aku tidak mencontek. Dalam hatiku, daripada mencontek lebih baik aji penawuran kataku. Dilain ruangan, teman-temanku yang terkumpul dalam ruangan orang-orang pandai sedikit sombong karena mereka keluar dahulu daripada aku yang bodoh, aku menangis dalam batin. Tapi dengan hal itu, justru menjadi pemicu bom waktu dalam diriku. Yang dengan dendamnya kemudian meledak, merontak, dan kemudian membakar adrenalinku, entah kenapa hari itu pun begitu lama berakhir terasa janggal bagiku karena tidak seperti hari-hari biasanya. Yang sialnya lagi, temanku yang gokil abis ternyata berbuat gokil juga. Bayangkan, LJKnya (Lembar Jawaban Komputer), ia isi dengan menggunakan pena/bolpoint. Dia menyesal mati-matian, katanya
“Aku sudah pasrah dan, aku gak bakal diterima”.
Aku turut sedih, tapi sedih yang terciprat lelucon konyol. Beberapa hari berikutnya akan diumumkan hasil test itu, hampir tiap malam teman-temanku mengajakku bertahajud (“Ah, itumah terserahmu”, kataku dalam hati), tapi aku ingat lagi temanku tadi yang menyesal karena salah mengisi LJK. Apakah aku pantas sombong? Tidak kataku, ini salah. Inilah jalanku, SMA inilah nanti tempatku belajar. Dan hari pengumuman yang mendebarkan itupun tiba, sahabatku datang kerumah bermaksud mengajakku berangkat bareng kesekolah, tapi waktu itu aku belum mandi. Akhirnya sekitar pukul 08.00 aku dan sahabat-sahabatku berangkat dengan hati yang berdebar untuk melihat hasil pengumuman.
***
Plang SMA NEGERI 1 TUMIJAJAR sudah terlihat. Disana terlihat jelas ratusan orang berkumpul sambil bercengkrama dengan lawan bicaranya. Wajah-wajah pucat itu mulai mengeluh, mata-mata putus asa itu mulai nampak, ocehan-ocehan tak jelas mulai bersaut-sautan. Maklumlah, sampai pukul 08.30 pengumuman hasil test tak kunjung ditempel. Orang-orang itu bagitu beragam berekspresi, ada yang hanya diam meski ada beberapa orang membuat lingkaran perkumpulan di sekitarnya, ada yang tegang dengan dialog-dialog yang tak jelas, ada pula yang tertawa terbahak-bahak karena dalam hatinya sudah hak paten bahwa dia tidak diterima (termasuk sahabat gokilku tadi), tapi ada juga yang santai plus kalem-kalem aja dan termasuk aku didalamnya mungkin juga.
Tak lama kemudian salah satu sahabatku (salah satu dari 5 orang bodoh yang terpisah ruangannya tadi) datang menghampiriku dan rombonganku, sambil terbata-bata ia berkata,
“Wah dan, namaku gak ada didaftar nama-nama sisiwa yang lulus test. Kayaknya kamu juga deh!”
“Yang bener? Kau tau dari mana?” tanyaku tegas,
“”Beli koran geh sana, aku tadi liat dari koran” sautnya lantang.
Mendengar kata-kata itu, hatiku bergetar. Aku gak diterima? (hati kecilku tak senormal biasanya, ada yang menusuk dengan paksa). Aku bergegas ke kios tempat penjual koran, luae biasa FANTASTIK! koran seharga Rp 1.500 naik sampai Rp 4.000. tapi aku tetap membelinya, dengan terburu-buru aku meneliti satu-persatu daftar nama-nama ratusan orang yang terpampang, dimulai dari urutan belakang (karena imposible namaku berada diurutan depan) tapi namaku tak kunjung terdeteksi, mataku sudah mulai terasa berat, apalagi karena teman-temanku sudah girang karena namanya ada didaftar orang-orang itu dan temanku yang berada disatu ruangan orang-orang pandai tadi diterima masuk semua tapi na’as bagi seorang siswa dari sekolah lain yang terdampar diruangan itu. Kecuali dia, semua orang yang ada diruangan orang-orang cerdas tadi diterima semua.
Hey, ternyata temanku yang mengatakan aku dan dia tidak diterima tadi namanya ada diurutan agak belakang dari daftar siswa yang lulus test, lalu aku mulai bersemangat kembali. Ku ulangi pencarianku sampai lima kali.
***
Dan Allah menjawab pertanyaanku, namaku “Danu Wijaya” berada dinomor urut 118. aku teriak kegirangan, akupun kembali kesekolah bermaksud memberitahu teman-teman yang belum tahu hasil test kemarin. Tapi selembaran sudah ditempel, dan sebagian lainnya juga dibagi-bagikan. Aku sempat bertengkar kecil dengan salah satu orang yang sensitif yang bahkan aku tak mengenalnya, ia meminta koranku. Tapi aku bermaksud membawanya pulang dan tidak memperbolehkannya dipijam karena selembaranpun sudah dibagi, tapi ia tak terima katanya aku dituduh menantangnya berkelahi. Ah, yasudah lah ku lempar saja koranku padanya. Ambillah sana, puas kau! Kataku dalam hati.
Perayaanpun berlanjut di rumah, bermaksud memberikan kejutan tapi ternyata ibuku sudah tahu tentang kabar ini. Syukurlah kataku, Allah memang maha tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Di pengumuman itu juga tertera beberapa minggu setelah itu siswa yang diterima harus mendaftar ulang dan beberapa hari berikutnya dilanjutkan dengan MOS (Masa Orientasi Siswa). Campur aduk perasaanku waktu itu, takut, bangga, malu, sedih, senang, berani, dan lainnya bercampur menjadi satu. Hari sabtu sebelum MOS kami dibagi sesuai undian (pembagian kelas MOS). Dan dari sinilah kebahagiaanku sebagai siswa SMAN 1 Tumijajar dimulai. Ada cerita dimana aku mendapatkan teman yang serius, taat beribadah, super kafir tapi setia kawan, ada yang pemarah, ada juga yang tidak pernah serius, super centil, tapi ada juga sosok yang menjadi primadona sekolah, dan sebagai remaja lain adakalanya aku terkena VMJ (Virus Merah Jambu), ada juga pengalaman petualagan kami bersama-sama ke berbagai penjuru lampung dengan menggunakan motor, SMA bagaikan rumah sendiri, bersama-sama membentuk tim nasyid, membuat film gokil, dan semua itu . . . . .
To be continued

Join The Community